Arsenal Jadi Raja Bola Mati: Arteta Ubah Filosofi Jadi Lebih Efisien dan Mematikan

Denting.id – Dulu, Arsenal dikenal sebagai tim yang memanjakan mata. Mereka bermain indah dengan kombinasi umpan-umpan cepat dan kolektivitas tinggi — khas era Arsène Wenger yang begitu melekat dalam ingatan publik. Namun, di bawah tangan dingin Mikel Arteta, The Gunners kini tampil dengan wajah baru: lebih pragmatis, lebih efisien, dan lebih mematikan.

Arsenal tak lagi menari-nari di lapangan untuk mencetak gol. Mereka kini mengandalkan bola mati sebagai senjata utama untuk meraih kemenangan. Formula baru ini ternyata sukses besar.

“Arsenal kini punya senjata ampuh yang membuat lawan ketar-ketir setiap kali mereka mendapat tendangan sudut. Dalam 10 laga awal Premier League musim ini, The Gunners sudah mencetak delapan gol dari skema sepak pojok — jumlah terbanyak dalam sejarah liga pada periode yang sama, sekaligus dua gol lebih banyak dari Chelsea di posisi kedua,” tulis Flashscore, Selasa (4/11/2025).

Hasilnya berbicara sendiri. Deretan gol dari situasi bola mati telah membantu Arsenal meroket di papan atas Premier League dan menjaga rekor sempurna di Liga Champions. Bola mati kini menjadi kunci kebangkitan mereka dalam upaya mengakhiri puasa gelar domestik yang sudah terlalu lama.

Salah satu pola yang paling mematikan adalah tendangan sudut ke tiang jauh, di mana Declan Rice menjadi pengumpan utama. Dengan akurasi dan kekuatan luar biasa, umpan Rice kerap menemukan Gabriel Magalhães, yang kemudian menyundul bola ke arah gawang. Kombinasi ini kembali terbukti saat Arsenal menumbangkan Burnley 2-0 akhir pekan lalu.

Dari sisi kanan, Bukayo Saka juga menghadirkan ancaman serupa dengan pengiriman bola yang tajam ke kotak penalti. Dengan variasi dari dua sisi, Arsenal membuat lawan kesulitan menebak arah serangan bola mati mereka.

Pelatih Slavia Praha, Jindrich Trpisovsky — lawan Arsenal di Liga Champions — bahkan mengakui kehebatan tersebut.

“Standar Arsenal luar biasa. Saya belum pernah melihat yang seperti ini. Mereka punya tinggi badan, kekuatan, timing, permainan udara, dan umpan akurat dari Rice,” ujarnya dalam konferensi pers pra-pertandingan.

Para lawan kini mencoba segala cara untuk menghentikan rutinitas mematikan ini. Banyak tim berusaha menjaga ketat Gabriel yang berkontribusi dalam tiga dari delapan gol bola mati, tetapi fokus berlebih kepadanya justru membuka ruang bagi pemain lain seperti William Saliba atau Riccardo Calafiori.

Dengan presisi, kekuatan fisik, dan disiplin taktik, Mikel Arteta sukses mengubah Arsenal menjadi tim yang menakutkan lewat efisiensi bola mati — sesuatu yang dulu jarang diasosiasikan dengan The Gunners.

Baca juga : Emil Audero Siap Hadapi Klub Masa Kecilnya, Juventus

Kini, para penggemar mungkin harus rela mengucapkan selamat tinggal pada permainan indah penuh kombinasi cepat. Namun jika gaya baru ini membawa trofi ke Emirates Stadium, maka pragmatisme Arteta tampaknya layak dirayakan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *