Eksperimen Tuchel Berbuah Manis: Inggris Kalahkan Serbia 2-0 dan Temukan Formula Baru Tanpa Harry Kane

Denting.id – Kemenangan 2-0 Inggris atas Serbia di Stadion Wembley tidak hanya memperpanjang rekor sempurna mereka di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Laga ini juga memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana The Three Lions dapat menyerang secara efektif tanpa Harry Kane sebagai pusat permainan. Eksperimen Thomas Tuchel pada babak kedua membuka dinamika baru yang membuat permainan Inggris terlihat jauh lebih cair dan agresif.

Sebelumnya, Tuchel menegaskan bahwa trio Harry Kane, Jude Bellingham, dan Phil Foden sulit tampil optimal ketika dimainkan bersamaan. Fase akhir pertandingan melawan Serbia seakan menjadi pembenaran halus atas pernyataan tersebut.

Dengan tetap mempertahankan struktur dasar 4-2-3-1, Tuchel melakukan perubahan yang menghidupkan tempo permainan Inggris. Ketika Inggris unggul 1-0, Kane dan Morgan Rogers ditarik keluar. Foden lalu ditempatkan sebagai false nine, sementara Bellingham bergerak tepat di belakangnya.

Eberechi Eze masuk mengisi sisi kiri dan Jordan Henderson menggantikan Declan Rice. Ini memberi ruang bagi Elliot Anderson untuk bermain lebih progresif di lini tengah.

Kombinasi baru ini membuat serangan Inggris terlihat jauh lebih variatif. Kerja sama antara Bellingham, Foden, dan Eze menghasilkan peluang besar—salah satunya ketika tendangan Eze menghantam mistar gawang. Beberapa menit kemudian, pola yang sama menghasilkan gol kedua Inggris.

Serbia mulai kehilangan energi untuk mengejar ketertinggalan, tetapi yang mencolok adalah bagaimana trio baru itu memberi warna berbeda dibandingkan skema yang dipimpin Kane. Aliran bola lebih cepat, ruang serangan lebih terbuka, dan pemain-pemain kreatif Inggris tampak lebih leluasa.

Usai laga, Tuchel bahkan menyebut pemain-pemain yang tidak ada dalam skuad saat ini sebagai opsi alternatif di posisi No.9. Ollie Watkins dan Danny Welbeck dinilai dapat memberikan gaya permainan berbeda sebagai pelapis Kane. Keputusan pada akhirnya akan bergantung pada performa, kondisi fisik, dan karakter lawan.

“Kami punya Ollie Watkins, punya Welbeck, mungkin lebih banyak No.9 yang berbeda dari Harry. Kami akan melihat siapa yang fit dan bagaimana kami ingin membagi menit permainan,” ujar Tuchel.

Tuchel juga berbicara mengenai Foden. Ia menolak memaksanya bermain sebagai winger seperti yang dilakukan Gareth Southgate di Euro 2024. Pemain Manchester City itu dinilai lebih cocok menjalankan peran false nine dalam situasi tertentu, berkat kemampuan menerima bola di ruang sempit, kombinasi cepat, dan pergerakan kecil yang efektif memecah pertahanan lawan.

Meski begitu, posisi Harry Kane tetap tidak tergantikan. Sebagai top skor sepanjang masa Inggris, namanya hampir pasti menjadi tumpuan utama pada Piala Dunia mendatang. Tetapi posisi pelapis Kane kembali menjadi topik penting, dengan Marcus Rashford dan Ollie Watkins pernah mengisi peran tersebut.

Rogers yang tampil konsisten dalam kualifikasi diyakini tetap menjadi pilihan penting bagi Tuchel. Dipadukan dengan Bellingham dan Foden, Inggris kini memiliki variasi serangan yang jauh lebih luas. Kehadiran Cole Palmer yang belum kembali juga berpotensi menambah kedalaman opsi.

Di sektor sayap, Marcus Rashford sempat mengancam tetapi kurang efektif dalam penyelesaian akhir. Eze tampil lebih berbahaya dan menunjukkan peningkatan signifikan setelah masuk. Sementara Bukayo Saka menjadi salah satu pemain paling konsisten dengan mencetak gol pembuka Inggris.

Permainan Inggris yang lebih agresif pada akhir laga menghasilkan catatan unik: 12 pemain berbeda menciptakan peluang. Ini merupakan jumlah terbanyak sejak data pencatatan dimulai pada 2013—menandakan betapa aktif dan variatifnya lini serang Inggris.

Baca juga: Heimir Hallgrimsson Pernah Doakan Indonesia Tampil di Piala Dunia, Kini Masuk Bursa Pelatih Timnas Garuda

Dengan tujuh kemenangan, mencetak 20 gol, dan belum kebobolan sepanjang kualifikasi, Inggris semakin menunjukkan bentuk permainan ideal yang ingin dibangun Tuchel. Eksperimen melawan Serbia menjadi bukti bahwa tanpa Kane pun, The Three Lions tetap berbahaya dengan pola serangan yang lebih fleksibel dan modern.

Mungkin Anda Menyukai