Jakarta, denting.id – Di tengah gejolak global dan ketidakpastian ekonomi dunia, Presiden Prabowo Subianto memastikan fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh dan menjanjikan. Optimisme itu ia sampaikan dalam pidatonya pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025 di Jakarta, Jumat.
Presiden menegaskan bahwa paparan lengkap dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menunjukkan bahwa Indonesia masih berada pada jalur pertumbuhan yang solid, meski dunia terus diguncang perang dagang dan perebutan hegemoni global.
“Gambaran kondisi ekonomi Indonesia sesungguhnya cukup menjanjikan dan menenangkan di tengah tantangan global yang penuh ketidakpastian,” kata Prabowo.
Ada Sinyal Konflik Global Mereda
Menurut Prabowo, beberapa konflik besar di dunia mulai menunjukkan tanda penyelesaian. Namun ia mengingatkan bahwa potensi ketegangan baru tetap harus diantisipasi.
“Di tengah semua dinamika itu, presentasi Menko Ekonomi dan Gubernur BI memberi rasa optimisme bagi kita,” ujarnya.
Prospek 2026 Cerah, Risiko Sudah Terserap
Dalam forum yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa hampir seluruh risiko ekonomi untuk 2026 sudah terserap pada tahun ini. Ia menyampaikan prospek tahun depan terlihat semakin positif.
Indikasi penguatan konsumsi terlihat melalui Mandiri Spending Index yang mencapai level 312 pada November 2025 di atas ambang 300. Investasi hingga September bahkan tumbuh 13,7 persen (yoy) dan mencapai Rp1.434 triliun.
Belanja pemerintah juga dipercepat dengan realisasi Rp1.109 triliun per 24 November 2025.
BI Longgarkan Kebijakan, Kredit Mengalir
Dari sisi moneter, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 125 basis poin sepanjang 2025, hingga berada di level 4,75 persen. Kebijakan ini mendorong penyaluran kredit usaha dan memperkuat aktivitas belanja masyarakat.
Perry Warjiyo: Dunia Masih Gelap, Tapi Indonesia Adaptif
Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengingatkan bahwa perekonomian global diperkirakan masih “meredup” pada 2026–2027, terutama akibat kebijakan proteksionis Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan akhir.
Menurutnya, perubahan-perubahan ini sedang membentuk ulang peta ekonomi dunia, dan Indonesia harus terus bersiap menghadapi ketidakpastian.
Dengan sinyal positif dari konsumsi, investasi, hingga kebijakan moneter, pemerintah berharap optimisme ini menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk tetap tumbuh di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

