Kabupaten Bogor, Denting – Inisiatif berani Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam mengurai kemacetan klasik di jalur Puncak mulai menampakkan hasil nyata. Dengan skema “meliburkan” angkutan kota (angkot) melalui pemberian kompensasi, titik-titik sumbatan yang biasanya menghantui jalur wisata internasional ini berkurang secara signifikan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Absennya aktivitas angkot yang kerap berhenti di bahu jalan atau “ngetem” sembarangan memberikan ruang lebih bagi kepolisian untuk mengatur arus kendaraan pribadi yang melonjak tajam.
Polisi: Arus Lebih Mudah Diurai
Kasatlantas Polres Bogor, AKP Rizky Guntama, mengakui bahwa kebijakan sterilisasi angkot di jalur Puncak sangat meringankan beban petugas di lapangan. Menurutnya, sirkulasi kendaraan kini menjadi lebih murni dan terarah menuju objek wisata.
“Sangat membantu di mana arus lalu lintas Alhamdulillah lebih mudah diurai karena memang tidak ada yang berhenti di pinggir jalan, tidak ada yang angkut penumpang. Jadinya memang pure kendaraan yang menuju tempat wisata,” ujar Rizky, Sabtu (27/12/2025).
Penegasan Larangan Operasional
Kebijakan ini berlaku secara total bagi seluruh angkutan umum di kedua arah jalur Puncak. Petugas memastikan tidak ada angkutan yang melanggar kesepakatan setelah dana kompensasi dicairkan oleh Pemerintah Provinsi.
“Itu dua arah, apa pun yang operasional di jalur puncak tadi sudah disampaikan dengan Pak Kadishub. Bila memang sudah diberikan kompensasi, tidak boleh beroperasional,” tegas Rizky.
Kompensasi APBD Sebesar Rp800 Ribu
Langkah ini diambil dengan tetap memperhatikan kesejahteraan para pengemudi. Pemprov Jabar telah mengalokasikan anggaran untuk 4.711 sopir angkot yang terdampak. Khusus di jalur Bogor-Cianjur, setiap sopir menerima Rp800 ribu sebagai pengganti penghasilan selama empat hari masa larangan operasional, yakni pada 24-25 Desember dan 30-31 Desember.
Hindari Stres Akibat Kemacetan Ekstrem
Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa penggunaan APBD untuk kompensasi ini adalah investasi agar masyarakat bisa berlibur dengan kualitas mental yang lebih baik, tanpa dihantui stres akibat kemacetan horor.
“Tujuannya agar di malam tahun baru tidak terjadi kemacetan parah dan di hari tahun baru di mana orang melaksanakan liburan bersama keluarga tidak mengalami stres karena antrean panjang,” jelas Dedi Mulyadi.
Dedi memastikan negara hadir melalui solusi cepat di titik-titik krusial seperti Puncak dan Bandung, sehingga momentum pergantian tahun tidak lagi identik dengan jebakan macet yang melelahkan.

