Nilai TKA Merah, Pimpinan MPR Alarmkan Krisis Pembelajaran Nasional

Jakarta, denting.id – Rendahnya capaian akademik siswa dan masih lebarnya kesenjangan digital menjadi sinyal darurat bagi dunia pendidikan nasional. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan perlunya aksi nyata dan kepemimpinan kuat untuk menyelamatkan sektor pendidikan dari krisis pembelajaran yang kian mengkhawatirkan.

Lestari menilai, tantangan pendidikan Indonesia pada 2026 tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan biasa. Diperlukan kerja kolektif lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga dunia usaha, untuk memastikan kualitas pembelajaran benar-benar meningkat.

“Di tengah keterbatasan dana, kita dihadapkan pada masalah kompetensi tenaga pengajar, kemampuan peserta didik, kesenjangan digital, hingga kesejahteraan guru yang belum memadai. Semua ini menunggu langkah cepat dan konkret,” ujar Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Ia menyoroti hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dari hasil tersebut, nilai rata-rata tertinggi mata pelajaran wajib hanya mencapai 70,43 pada Antropologi, sementara bahasa Inggris berada di posisi terendah dengan nilai 24,93. Matematika juga mencatatkan nilai rendah dengan rata-rata 36,10 dari skala maksimal 100.

Selain capaian akademik, kesenjangan digital masih menjadi persoalan serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan kepemilikan komputer atau laptop untuk belajar di wilayah perkotaan mencapai 65 persen, sedangkan di perdesaan baru 28 persen.

Di sisi lain, kualitas keterampilan guru dalam menjalankan pembelajaran, baik tatap muka maupun jarak jauh, dinilai belum merata dan masih membutuhkan peningkatan signifikan.

Menurut anggota Komisi X DPR RI itu, pemulihan sektor pendidikan harus difokuskan pada penguatan literasi, numerasi, serta pembentukan karakter peserta didik. Dukungan penuh terhadap sekolah menjadi kunci agar strategi tersebut dapat berjalan efektif.

“Peningkatan kompetensi guru harus menjadi prioritas melalui pelatihan yang praktis, kontekstual, dan sesuai kebutuhan di ruang kelas,” tegasnya.

Lestari mengingatkan, krisis pembelajaran yang dibiarkan berlarut-larut akan berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia Indonesia dan melemahkan daya saing bangsa di masa depan.

“Ini bukan sekadar soal nilai, tetapi soal masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Baca juga : DPR Soroti Nasib Staf Sekolah: Insentif Naik, Tapi Tak Semua Ikut Merasakan

Baca juga : Solidaritas untuk Aceh: Polda Sumsel Kerahkan 100 Brimob ke Lokasi Bencana

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai