Tarmeem, Domba Edit Gen India Rayakan Ulang Tahun Pertama, Otot Tumbuh 10 Persen Lebih Besar

India, denting.id – Dunia sains peternakan India mencatat tonggak baru setelah domba hasil penyuntingan gen pertama di negara itu genap berusia satu tahun dengan kondisi sehat dan pertumbuhan di atas rata-rata.

Domba yang diberi nama Tarmeem—bermakna modifikasi—lahir pada 16 Desember tahun lalu di Kashmir yang dikelola India. Hewan ini dikembangkan oleh tim peneliti Universitas Pertanian Sher-e-Kashmir di Srinagar menggunakan teknologi penyuntingan gen CRISPR.

Tarmeem dipelihara di kandang khusus dengan pengawasan ketat dan hidup berdampingan dengan saudara kembarnya yang tidak mengalami penyuntingan gen. Perbandingan ini menjadi bagian penting dari penelitian jangka panjang yang tengah berjalan.

Peneliti utama proyek, Prof Riaz Shah, mengatakan hasil pemantauan sejauh ini menunjukkan kondisi Tarmeem sangat baik. Parameter fisiologis, biokimia, dan fisiknya dinilai normal, dengan pertumbuhan otot sekitar 10 persen lebih besar dibandingkan saudara kembarnya.

“Peningkatan ini sesuai dengan perkiraan kami dan kemungkinan akan terus bertambah seiring bertambahnya usia,” kata Prof Shah, dikutip dari laporan BBC, Sabtu.

Teknologi CRISPR memungkinkan para ilmuwan menyunting gen secara presisi. Dalam eksperimen ini, tim peneliti menonaktifkan gen myostatin, gen yang berperan membatasi pertumbuhan otot pada hewan.

“Kami menyunting gen myostatin pada embrio domba, lalu memindahkannya ke induk pengganti. Setelah itu, proses alamiah berlangsung hingga anak domba lahir,” jelas peneliti Dr Suhail Magray.

Tim peneliti mengungkapkan proses menuju keberhasilan tidaklah mudah. Selama tujuh tahun penelitian, mereka menghadapi berbagai kegagalan sebelum akhirnya berhasil pada Desember 2024. Dari tujuh prosedur bayi tabung, hanya satu yang berhasil menghasilkan domba dengan gen tersunting secara sempurna.

Meski demikian, keberhasilan Tarmeem memicu optimisme besar. Para ilmuwan menilai teknologi ini berpotensi membantu mengatasi ketimpangan produksi daging domba di Lembah Kashmir, yang konsumsi tahunannya mencapai sekitar 60.000 ton, sementara produksi lokal baru memenuhi separuh kebutuhan.

“Dengan lahan yang makin terbatas dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, penyuntingan gen dapat meningkatkan bobot tubuh domba hingga 30 persen. Artinya, lebih sedikit hewan bisa menghasilkan lebih banyak daging,” ujar Wakil Rektor Universitas Sher-e-Kashmir, Prof Nazir Ahmad Ganai.

Namun, penerapan teknologi ini untuk peternakan komersial masih bergantung pada persetujuan pemerintah India. Saat ini, Tarmeem masih dikategorikan sebagai objek penelitian dengan pengawasan ketat.

Teknologi penyuntingan gen sendiri masih menuai perdebatan etika di berbagai negara. Meski berbeda dengan rekayasa genetika (GM) karena tidak memasukkan gen asing, CRISPR tetap memicu diskusi soal keamanan dan regulasi.

Sejumlah negara seperti Jepang, Brasil, dan Australia telah mengizinkan konsumsi hewan hasil penyuntingan gen tertentu. India sendiri baru-baru ini menyetujui varietas padi hasil penyuntingan gen, namun status domba seperti Tarmeem masih menunggu kepastian regulasi.

“Jika dulu India mencapai swasembada pangan lewat inovasi sains, maka penyuntingan gen pada hewan bisa menjadi langkah serupa bagi industri daging,” kata Prof Ganai optimistis.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai