Dokter IDAI Peringatkan Ancaman Superflu H3N2 yang Mudah Menular

Jakarta, denting.id – Meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut akibat influenza kembali menjadi perhatian, menyusul merebaknya varian H3N2 yang populer disebut sebagai “superflu” karena daya tularnya yang tinggi.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap influenza H3N2 yang dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat.

Menurut Nastiti, istilah superflu muncul karena kecepatan penularan virus tersebut, terutama di wilayah dengan suhu dingin. Penularannya terjadi melalui droplet atau percikan ludah saat batuk dan bersin, serta kontak langsung dengan cairan pernapasan orang yang terinfeksi.

“Penularannya sangat cepat. Satu orang bisa menularkan ke dua sampai tiga orang di sekitarnya, bahkan diperkirakan bisa lebih, meski belum ada penelitian lanjutan,” ujar Nastiti dalam diskusi daring bertajuk Mengenali dan Mewaspadai Superflu yang diikuti dari Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan, superflu merupakan bagian dari virus influenza A H3N2, khususnya varian subclade K, yang dicurigai menjadi penyebab lonjakan kasus influenza di musim dingin antara Oktober hingga Januari atau Februari. Di Amerika Serikat dan belahan bumi utara, sekitar 200 kasus subclade K telah teridentifikasi melalui pemeriksaan genome sequencing.

Nastiti menyebutkan virus H3N2 memiliki tingkat evolusi yang tinggi, mudah bermutasi, dan berpotensi memicu epidemi influenza massal. Kondisi ini dapat menyebabkan lonjakan pasien rawat inap serta meningkatkan kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan, terutama di negara dengan musim dingin yang berat atau berkepanjangan.

“Gejalanya sebenarnya mirip dengan influenza A pada umumnya, seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri tenggorokan, dan pilek. Secara klinis, dokter sulit membedakan apakah ini influenza biasa atau subclade K tanpa pemeriksaan lanjutan,” katanya.

Influenza dapat terdeteksi melalui rapid test atau pemeriksaan swab. Namun, untuk memastikan varian H3N2 subclade K diperlukan pemeriksaan genome sequencing di laboratorium berteknologi tinggi, seperti yang dilakukan pada masa pandemi COVID-19.

Kelompok yang berisiko tinggi mengalami keparahan akibat influenza H3N2 meliputi balita, lansia, serta pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid, seperti penyakit kronik, penyakit jantung bawaan pada anak, gangguan kardiovaskular pada dewasa, kanker, dan pasien yang mengonsumsi obat penekan sistem imun.

Meski demikian, Nastiti menegaskan hingga saat ini belum ada bukti bahwa subclade K H3N2 lebih berbahaya dibandingkan varian influenza A lainnya. Tingkat keparahannya masih dinilai serupa.

Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan bahwa imunisasi influenza tetap menjadi cara paling efektif untuk menurunkan risiko penularan maupun keparahan penyakit.

“Kerentanan terhadap influenza lebih tinggi pada mereka yang tidak mendapatkan imunisasi. Sejauh ini, vaksin influenza terbukti memberikan perlindungan yang baik dan menurunkan risiko komplikasi,” ujarnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala flu, terutama pada kelompok rentan, serta tetap menerapkan langkah pencegahan guna menekan potensi penyebaran superflu.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *