Jakarta, denting.id – PDI Perjuangan mengajak publik membangun kesadaran mitigasi bencana secara kolektif dengan menjadikan isu kebencanaan sebagai bagian dari kultur dan kebijakan politik. Langkah ini ditegaskan Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto sebagai arahan langsung dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Berbicara di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin, Hasto menegaskan bahwa politik sejatinya berkaitan erat dengan keselamatan dan keberlangsungan hidup rakyat. Karena itu, upaya pencegahan bencana dinilai sebagai tanggung jawab moral dan ideologis partai.
“Politik adalah tentang kehidupan. Menyelamatkan nyawa rakyat melalui pencegahan bencana merupakan tugas suci partai,” ujar Hasto.
Ia mengungkapkan konsistensi Megawati Soekarnoputri dalam mengawal isu kebencanaan, termasuk memanfaatkan hari libur untuk berdiskusi dengan para ahli klimatologi dan geofisika guna memahami potensi bencana secara lebih mendalam.
“Ibu Mega mengajarkan bahwa berbicara bencana bukan sekadar menolong rakyat saat kejadian, tetapi bagaimana memberikan pengetahuan kepada rakyat terhadap potensi bencana. Kita hidup di daerah ring of fire, maka kesadaran kolektif untuk mengurangi risiko bencana harus dibangun sejak dini,” kata Hasto.
Sebagai langkah konkret, PDI Perjuangan menerbitkan buku panduan berjudul Spirit of Humanity yang memuat pendekatan ilmiah mitigasi bencana. Buku yang ditelaah langsung oleh Megawati itu dicetak sebanyak 5.000 eksemplar dan ditujukan sebagai pedoman bagi kader partai maupun masyarakat luas.
Selain itu, partai juga mendorong penerapan sistem peringatan dini atau early warning system berbasis kearifan lokal, seperti penggunaan kentongan dan sirene sebagai alat peringatan bencana di tingkat komunitas.
Hasto juga memaparkan visi “Politik Hijau” Megawati yang menempatkan perlindungan alam sebagai benteng utama menghadapi bencana. Dalam kerangka ini, setiap daerah diminta membangun nursery atau pusat pembibitan tanaman pelindung.
Ia mencontohkan pengembangan cemara udang di pesisir Bantul serta penanaman mangrove di Surabaya yang secara ilmiah terbukti mampu meredam energi gelombang tsunami dan menjaga ekosistem pesisir.
“Ibu Mega teringat pesan Ibu Fatmawati saat di Bengkulu bahwa cemara udang memiliki akar yang sangat kuat untuk melindungi pantai dari tsunami. Visi inilah yang kami terjemahkan ke dalam kebijakan kepala daerah PDI Perjuangan,” jelas Hasto.
Lebih lanjut, PDI Perjuangan juga menekankan pentingnya politik tata ruang yang ketat. Kepala daerah dan legislator PDIP diminta memastikan pembangunan permukiman tidak dilakukan di atas jalur sesar aktif atau wilayah rawan likuefaksi, sebagaimana tragedi yang pernah terjadi di Palu.
Menurut Hasto, pemahaman terhadap pergeseran lempeng tektonik dan ancaman megathrust harus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pembangunan.
“Mari kita berdoa memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa agar misi ini berjalan lancar,” tutupnya.
Baca juga : Lobi Energi Hijau di Abu Dhabi, Eddy Soeparno Ajak Masdar Perluas Investasi di Indonesia

