Menkeu Purbaya Optimistis Rupiah Segera Menguat Usai Hampir Sentuh Rp17.000 per Dolar AS

Jakarta, Denting.id — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis nilai tukar rupiah akan segera berbalik menguat meski sempat hampir menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan Senin (19/1), rupiah tercatat berada di posisi Rp16.955 per dolar AS. Menurut Purbaya, pergerakan nilai tukar sangat bergantung pada fundamental ekonomi suatu negara.

Dalam konteks Indonesia, Purbaya menilai fundamental ekonomi masih terjaga dengan baik dan menunjukkan ketahanan. Salah satu indikatornya terlihat dari kinerja pasar saham domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin sore ditutup mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di level 9.133,87.

“IHSG all time high, kan? Kalau indeks naik, pasti ada aliran asing masuk ke situ juga. Nggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu. Jadi, ini tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat, karena suplai dolar akan bertambah,” ujar Purbaya dikutip Selasa (20/1).

Purbaya juga membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Ia menilai spekulasi tersebut muncul dari kekhawatiran sebagian pihak soal independensi bank sentral.

Menurut Purbaya, masuknya pejabat dari Kementerian Keuangan ke jajaran BI tidak akan mengganggu independensi otoritas moneter.

“Orang berspekulasi ketika Thomas ke sana, independensi BI hilang. Saya pikir nggak akan begitu,” tegasnya.

Sebagai bendahara negara, Purbaya menegaskan pemerintah akan terus menjaga fondasi ekonomi nasional, termasuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, agar nilai tukar rupiah dapat segera kembali menguat.

Diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin, melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.887 per dolar AS.

Pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya ancaman tarif sebesar 10 persen dari Presiden AS Donald Trump terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.

Baca juga: Menkeu Purbaya Sidak BPI Danantara Usai Keluhan Coretax, Klaim Masalah Sudah Teratasi

Selain itu, keraguan investor terkait kemungkinan Federal Reserve hanya melakukan satu kali atau bahkan tidak melakukan pemotongan suku bunga tahun ini turut memberi tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *