Denting.id – Tragedi meninggalnya YBR (10), siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menyoroti lemahnya perlindungan anak di Indonesia. Bocah tersebut diduga mengakhiri hidupnya setelah tidak mendapatkan uang untuk membeli buku dan pensil.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengakui peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa negara belum sepenuhnya mampu melindungi anak, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Peristiwa ini mengingatkan kita semua bahwa perlindungan terhadap anak belum sepenuhnya bisa kita penuhi,” kata Arifah kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Arifah menegaskan, keputusan tragis yang diambil korban tidak bisa dipandang sebagai akibat dari satu faktor saja. Ketidakmampuan membeli alat tulis dinilai hanya menjadi pemicu terakhir dari berbagai tekanan sosial dan ekonomi yang dialami korban.
“Kami melihat ini bukan satu faktor saja. Banyak faktor pendukung di belakangnya sehingga anak melakukan hal yang di luar dugaan,” ujarnya.
Berdasarkan penelusuran Kementerian PPPA di lapangan, kondisi keluarga korban tergolong tidak mampu. Situasi tersebut, menurut Arifah, menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar memastikan layanan dasar benar-benar menjangkau masyarakat rentan.
“Keluarga ini bisa dikatakan keluarga yang tidak mampu. Ini menjadi perhatian kita bersama, bagaimana seluruh stakeholder memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang memang seharusnya mendapatkan kesempatan dan pelayanan dari pemerintah,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh lembaga pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan introspeksi dan memperkuat sinergi dalam upaya perlindungan anak.
“Ini menjadi introspeksi kita bersama agar bisa saling menguatkan dan memberikan dukungan nyata kepada masyarakat,” tambahnya.
Sebelumnya, YBR ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, pada Kamis (29/1/2026). Korban diketahui merupakan siswa kelas IV sekolah dasar.
Saat proses evakuasi, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan berbahasa daerah Bajawa yang ditujukan kepada ibunya. Hingga kini, pihak kepolisian masih menyelidiki latar belakang kejadian tersebut, termasuk dugaan kekecewaan korban karena tidak dibelikan peralatan tulis akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Baca juga: Kementerian HAM Dukung KPK Tak Pamerkan Tersangka Saat Konferensi Pers
Jika kamu atau seseorang di sekitarmu sedang mengalami tekanan emosional atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk mencari bantuan dari keluarga, tenaga profesional, atau layanan konseling terdekat. Kamu tidak sendirian dan bantuan selalu tersedia.

