Bogor, Denting.id – Kebun Raya Bogor (KRB) kembali menjadi pusat perhatian dunia botani. Bunga bangkai raksasa, Amorphophallus titanum, resmi mekar sempurna dan menjadi magnet bagi ribuan warga yang rela mengantre panjang untuk menyaksikan fenomena langka tersebut, Sabtu (7/2/2026).
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, di sela kegiatan fun walk, tampak ikut mengantre bersama masyarakat. Ia menyebut momen ini sangat istimewa mengingat siklus mekarnya yang tidak menentu, yakni antara 6 hingga 12 tahun sekali.
“Alhamdulillah, warga Kota Bogor berkesempatan menikmati mekarnya bunga bangkai yang hanya berlangsung selama empat sampai lima hari. Ini momen yang sangat langka,” ujar Dedie Rachim saat meninjau area Mata Air Kahuripan KRB.
Hasil Penantian Sejak 1992
Bunga dengan nomor koleksi 382 ini merupakan tumbuhan hasil bibit asal Jambi yang ditanam sejak 11 September 1992. Setelah penantian panjang, bunga ini mencapai fase mekar penuh pada malam 5 Februari 2026 dengan tinggi tongkol (spadiks) mencapai 140 sentimeter dan diameter kelopak 56 sentimeter.
Peneliti Ahli Madya BRIN, Dian Latifah, menjelaskan bahwa bunga ini terakhir mekar pada tahun 2020. Uniknya, meski dikenal sebagai bunga tunggal raksasa, sebenarnya bunga jantan dan betinanya berukuran kecil dan bersembunyi di bagian bawah tongkol yang menjulang.
“Di Kebun Raya, proses penyerbukan harus dibantu manusia (hand pollination) karena waktu masak bunga jantan dan betina tidak bersamaan,” jelas Dian.
Potensi Budidaya di Luar Bogor
Dalam kunjungannya, Dedie Rachim juga berdiskusi dengan peneliti BRIN mengenai kemungkinan pengembangan bunga ikonik ini agar bisa tumbuh di daerah lain di Indonesia, tidak hanya terbatas di Bogor, Jambi, atau Bengkulu.
“Harapannya, bunga kebanggaan Indonesia ini nantinya bisa dikembangkan lebih luas dari Kebun Raya Bogor sehingga bisa dinikmati masyarakat di daerah lain juga,” tambah Dedie.
Bagi masyarakat yang ingin melihat langsung, disarankan segera datang ke Kebun Raya Bogor dalam dua hari ke depan sebelum bunga mulai menguncup dan memasuki fase dorman (istirahat) kembali.

