Jakarta, Denting.id – Mayoritas masyarakat Indonesia menyatakan dukungan terhadap langkah Kejaksaan Agung yang menampilkan tumpukan uang hasil sitaan dari penindakan kasus korupsi. Langkah tersebut dinilai publik sebagai bentuk transparansi dalam upaya pemberantasan korupsi.
Hal ini terungkap dalam survei nasional yang dilakukan Indikator Politik Indonesia mengenai sikap masyarakat terhadap kebijakan Kejaksaan Agung memamerkan uang hasil penindakan korupsi. Survei dilaksanakan pada 15 hingga 21 Januari 2026.
Hasil survei menunjukkan sebanyak 50,2 persen responden mengetahui kebijakan tersebut, sementara 49,8 persen lainnya mengaku tidak mengetahuinya. Dari responden yang mengetahui kebijakan tersebut, mayoritas menyatakan setuju, dengan rincian 8,1 persen sangat setuju dan 62,6 persen setuju.
Sementara itu, sebanyak 12,4 persen responden menyatakan kurang setuju, 5,3 persen tidak setuju sama sekali, dan 11,6 persen lainnya tidak tahu atau tidak memberikan jawaban.
Founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menyebut mayoritas masyarakat memandang kebijakan tersebut sebagai wujud komitmen Kejaksaan Agung dalam mewujudkan transparansi pemberantasan korupsi.
“Sebanyak 61,8 persen mengatakan itu merupakan komitmen dari Kejaksaan untuk transparansi pemberantasan korupsi,” kata Burhanuddin, Minggu (8/2/2026).
Meski demikian, sebanyak 24,3 persen responden menilai langkah tersebut hanya sebatas pencitraan. Mereka beranggapan kerugian negara akibat tindak pidana korupsi jauh lebih besar, bahkan mencapai ratusan triliun rupiah. Sementara itu, 13,9 persen responden tidak mengetahui atau tidak menjawab.
Survei ini melibatkan seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah saat survei dilakukan. Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden sebanyak 1.220 orang.
Dengan asumsi metode simple random sampling, survei ini memiliki margin of error sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden berasal dari seluruh provinsi di Indonesia dan diwawancarai secara langsung oleh pewawancara yang telah mendapatkan pelatihan.

