Jakarta, denting.id – Bulan suci Ramadan tahun ini diwarnai kemeriahan dan program istimewa di Masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini menyiapkan rangkaian kegiatan ibadah, sosial, hingga pendidikan yang terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat.
“Insyaallah kita akan ada beberapa kegiatan yang rutin. Yang rutin itu seperti salat Tarawih,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers di Masjid Istiqlal, Rabu (18/2/2026).
Nasaruddin Umar, memastikan Ramadan kali ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penguatan spiritual dan pemberdayaan umat.
Tradisi pembacaan 30 juz Al-Quran selama Tarawih tetap dipertahankan. Setiap malam, dua imam bergantian memimpin 20 rakaat Tarawih yang ditutup witir tiga rakaat. Untuk menjaga kenyamanan jemaah, satu halaman bacaan dibagi menjadi tiga bagian agar durasi berdiri tidak terlalu panjang.
Tak hanya itu, sebelum Tarawih, lantunan ayat suci akan dibawakan qari internasional secara bergilir, termasuk imam yang pernah meraih gelar juara dunia.
Agenda buka puasa bersama (bukber) menjadi salah satu magnet utama. Pada akhir pekan, jumlah penerima nasi boks bisa mencapai 7.000 hingga 10.000 orang per hari. Sementara di hari biasa, rata-rata 4.000–5.000 jemaah menikmati hidangan berbuka.
Memasuki 10 hari terakhir Ramadan, kegiatan iktikaf diprediksi membludak. Bahkan, menurut Nasaruddin, suasana di Istiqlal semakin padat menjelang akhir Ramadan mirip atmosfer di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah.
Ramadan di Istiqlal juga diramaikan khataman Al-Quran oleh ibu-ibu dari pagi hingga malam. Sementara itu, anak-anak mendapat ruang khusus melalui program dongeng religi yang selalu dipadati keluarga.
Program ini menjadi bagian dari upaya menjadikan masjid sebagai pusat edukasi keluarga, bukan sekadar tempat ibadah formal.
Yang tak kalah menarik, Istiqlal tetap membuka kursus bahasa gratis: Inggris, Mandarin, Arab, Persia, Prancis, Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), bahkan Ibrani dan Aramaik. Pengajarnya merupakan penutur asli (native speaker), dan seluruh program tidak dipungut biaya.
Manajemen Istiqlal memberi perhatian khusus bagi penyandang disabilitas. Tersedia lift, toilet khusus, hingga saf prioritas di bagian depan lantai atas untuk tunanetra dan tunarungu. Saat buka puasa, jalur khusus juga disiapkan agar mereka tidak perlu berdesakan.
Di bidang pendidikan, Istiqlal bekerja sama dengan Universitas PTIQ Jakarta mengembangkan program Pendidikan Kader Ulama, termasuk skema khusus bagi ulama perempuan.
Program Kader Ulama Perempuan ini bahkan mendapat apresiasi dari pimpinan Al-Azhar di Kairo, Mesir. Format pendidikan tersebut disebut-sebut berpotensi menjadi model yang diadopsi secara internasional.
Sebagai masjid negara, Istiqlal memiliki ruang khusus Presiden dan Wakil Presiden untuk kegiatan kenegaraan. Ruang tersebut telah beberapa kali digunakan, termasuk oleh Presiden Prabowo dalam berbagai agenda resmi.
Ramadan di Istiqlal tahun ini pun menjadi cerminan wajah Islam Indonesia: inklusif, progresif, dan terbuka bagi semua.

