Genetik Terancam? Ini Risiko Ayah Usia Tua pada Anak

Jakarta, denting.id  — Usia ayah ternyata memiliki peran penting terhadap risiko genetik anak. Penelitian terbaru mengungkap bahwa semakin bertambah usia pria, semakin tinggi kemungkinan terjadi mutasi DNA pada sperma yang dapat berdampak pada kesehatan genetik keturunan.

“Kami memperkirakan akan menemukan bukti adanya seleksi alam di dalam sperma, namun kami tak menyangka dampaknya sebesar ini terhadap peningkatan jumlah sperma yang membawa mutasi terkait penyakit serius,” ujar Matthew Neville, ahli genetika dari Wellcome Sanger Institute.

Penelitian yang dilakukan tim dari Wellcome Sanger Institute bersama King’s College London menggunakan teknologi NanoSeq untuk menganalisis mutasi beresolusi tinggi pada sperma pria usia 24 hingga 75 tahun. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan mutasi genetik pada pria berusia lebih tua.

Mutasi genetik terjadi saat sel bereplikasi. Seiring waktu, mutasi ini menumpuk layaknya keausan mesin. Dalam konteks reproduksi, mutasi genetik tertentu bisa bersifat “egois” karena membuat sel sperma berkembang lebih cepat dibanding sel lain, sehingga berpotensi mendominasi dan meningkatkan risiko penyakit.

Dalam studi terhadap 81 sampel sperma dari 57 pria sehat, ditemukan sekitar 2 persen sperma pria usia 30-an membawa mutasi genetik yang berpotensi menyebabkan penyakit. Angka ini meningkat menjadi 3–5 persen pada pria di atas 43 tahun. Bahkan pada usia 70 tahun, rata-rata 4,5 persen sperma memiliki mutasi genetik berisiko.

Peneliti utama, Matt Hurles, menjelaskan bahwa perubahan genetik tertentu tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang biak di dalam testis. “Beberapa perubahan DNA tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang biak di dalam testis. Artinya, pria yang memiliki anak di usia lebih tua mungkin tanpa sadar memiliki risiko lebih tinggi menurunkan mutasi berbahaya,” jelasnya.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa tidak semua mutasi genetik otomatis diwariskan ke anak. Sebagian mutasi bahkan bisa menghambat perkembangan embrio sejak dini. Namun temuan ini tetap menjadi sinyal penting bahwa faktor usia ayah berkontribusi terhadap kesehatan genetik generasi berikutnya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini membuka wawasan baru tentang bagaimana proses alami dalam sistem reproduksi pria dapat memengaruhi kualitas genetik keturunan. Para peneliti menekankan perlunya riset lanjutan guna memahami dampak mutasi genetik ini secara lebih mendalam terhadap kesehatan anak di masa depan.

Temuan ini memperkuat pesan bahwa perencanaan keluarga tak hanya mempertimbangkan kesiapan finansial dan emosional, tetapi juga faktor genetik yang berkaitan dengan usia ayah.

Mungkin Anda Menyukai