Waketum MUI Cholil Nafis Minta Tak Ada Sweeping Warung Saat Ramadan 2026, Tekankan Saling Menghormati

Jakarta, Denting.id – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis meminta masyarakat tidak melakukan sweeping atau razia sepihak terhadap warung makan yang tetap buka selama Ramadan 2026.

“Saya tidak setuju adanya sweeping-sweeping di bulan Ramadan, hanya saja kami minta kepada pemerintah setempat agar diatur di tempat-tempat orang berpuasa, hormati orang berpuasa,” kata Cholil, Kamis (19/2/2026).

Cholil mengingatkan, umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa tidak perlu melakukan tindakan sweeping terhadap rumah makan yang beroperasi di siang hari. Menurutnya, tugas utama umat berpuasa adalah memperkuat diri dan meningkatkan kualitas ibadah, bukan melakukan razia.

“Jangan sampai melakukan kemungkaran, karena tugasnya bukan men-sweeping, cukup perkuat diri kita, tetapi kita saling menghargai (orang) berpuasa dan tidak berpuasa,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah harus aktif mengatur operasional warung makan selama Ramadan agar tetap menjaga kondusivitas. Di satu sisi, para pelaku usaha tetap bisa mencari rezeki, namun di sisi lain tetap menghormati masyarakat yang sedang berpuasa.

“Tapi ini harus dimengerti oleh pemerintah setempat/daerah agar diatur warung-warung yang buka tengah hari di bulan Ramadan agar menjaga kondusivitas, kekhusyukan puasa, dan menghormati orang yang berpuasa,” kata Cholil.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat kesalehan sosial dan harmoni kebangsaan di tengah dinamika kehidupan masyarakat.

Menag yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu menegaskan bahwa Ramadan seharusnya menghadirkan dampak yang tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memperkuat solidaritas dan persaudaraan kebangsaan.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Naik Jet Pribadi OSO, KPK Minta Penjelasan ke Publik

“Ramadan adalah momentum untuk memperkuat kesalehan sosial dan merawat harmoni kebangsaan. Ia bukan sekadar ibadah individual, tetapi madrasah ruhani yang membentuk kepedulian, empati, dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ujarnya.

Mungkin Anda Menyukai