Bahaya Oversharing di Medsos, Psikolog UI Ingatkan Pentingnya Empati dan Kontrol Diri

Jakarta, denting.id – Fenomena oversharing di media sosial kian marak terjadi, terutama ketika pengguna merasa nyaman membagikan hampir seluruh aspek kehidupannya ke ruang publik. Namun, perilaku oversharing ini dinilai dapat berdampak negatif jika tidak disertai empati dan kontrol diri.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi menegaskan, “Kalau sudah yang pribadi, enggak usah terlalu diunggah. Itu ada hal yang seharusnya secara moral harus bisa membatasi orang untuk mengatakannya,” ujarnya, Selasa (24/02/2026).

Psikolog yang akrab disapa Romi itu menjelaskan, oversharing bukan sekadar membagikan cerita, tetapi juga membuka ruang munculnya beragam persepsi dari publik. Setiap unggahan berpotensi memengaruhi hubungan sosial, baik dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Menurutnya, tidak semua informasi layak dikonsumsi publik. Oversharing kerap terjadi tanpa disadari, apalagi ketika seseorang merasa mendapatkan perhatian, apresiasi, atau respons positif seperti tanda suka dan komentar.

“Kenapa kalau lagi oversharing enggak sadar, karena kadang-kadang mereka mungkin dapat tanggapan menyenangkan, ada audiens yang memperhatikan dia,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa perilaku oversharing bisa berdampak negatif karena belum tentu semua orang menerima atau setuju dengan informasi yang dibagikan. Respons pro dan kontra merupakan konsekuensi yang tak terhindarkan di media sosial.

Untuk mencegah oversharing, Romi menekankan pentingnya stimulasi moral melalui tujuh kebajikan utama atau seven essential virtues, seperti empati, kontrol diri, dan nurani. Empati membantu seseorang mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum mengunggah sesuatu, sementara kontrol diri menjadi benteng agar tidak semua hal diumbar ke publik.

“Seven essential virtues itu perlu ada pada setiap manusia dan memang sudah ada, tapi harus distimulasi agar bisa lebih memahami dan bisa masuk ke dalam kehidupan kita dalam praktiknya, termasuk dalam meng-upload di media sosial,” tuturnya.

Dengan empati dan kontrol diri, perilaku oversharing dapat ditekan sehingga media sosial tetap menjadi ruang yang sehat dan bermanfaat bagi semua pihak.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai