Jakarta, Denting.id – Pemerintah menegaskan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Neraca pangan hingga April 2026 menunjukkan sembilan komoditas strategis berada dalam posisi surplus produksi.
Komoditas tersebut meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Amran Sulaiman, menyatakan produksi dan stok nasional berada dalam posisi kuat.
“Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan, yang belum ada tiga. Nah, yang tiga (belum swasembada) ini pun stoknya banyak. Jadi tidak boleh ada main-main,” ujarnya.
Ia mengungkapkan stok beras nasional saat ini mencapai 3,4 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah dan sekitar dua kali lipat dari kondisi normal yang berkisar 1–1,5 juta ton.
Sebagai instrumen stabilisasi harga, pemerintah menyiapkan cadangan beras program SPHP sebesar 1,5 juta ton dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram. Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat selama periode Ramadan hingga Lebaran.
Pengawasan distribusi dan stok diperkuat melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta Satgas Pangan. Pemerintah menegaskan penindakan akan difokuskan pada pelaku distribusi besar apabila ditemukan pelanggaran.
“Kalau ada yang mencoba menaikkan harga, pemerintah bersama Satgas Pangan akan menindak tegas. Pengawasan difokuskan pada sumber distribusi besar, bukan pedagang kecil. Yang diperiksa adalah pabrik, distributor utama, dan rantai pasok hulunya,” tegas Amran.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Isy Karim, menekankan pentingnya pemantauan harga secara intensif di pasar.
“Kalau harga melonjak tapi stok cukup, tentu bisa diambil tindakan. Segera laporkan ke pusat agar bisa dilakukan suplai dari daerah lain atau melalui BUMN pangan, sehingga harga tidak bergejolak,” tuturnya.
Pemerintah juga menggulirkan Gerakan Pangan Murah Serentak di seluruh Indonesia sebagai bagian dari operasi pasar guna menjaga keterjangkauan harga.
Ketua Umum Pedagang Pejuang Indonesia Raya (Papera), Don Muzakir, menilai stabilitas harga selama Ramadan merupakan hasil kerja nyata pemerintah dalam menjaga pasokan dan distribusi.
“Stabilitas ini bukan kebetulan. Ini hasil kerja nyata pemerintah yang serius memastikan rakyat bisa menjalani Ramadan tanpa tekanan lonjakan harga,” katanya.
Baca juga: Harga Pangan Naik Saat Ramadan 1447 H, Stabilitas Pasar Kembali Jadi Ujian Tahunan
Menurutnya, penyaluran beras SPHP dan operasi pasar murah terbukti efektif menjaga keseimbangan pasar. “Distribusi lebih tertata, stok terjaga, dan pengawasan diperketat. Ketika semua elemen bergerak bersama, stabilitas pasar tercapai. Ini contoh nyata kebijakan pangan yang bekerja untuk rakyat,” ujar Don.

