Bogor, Denting.id – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, meninjau langsung lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan Gene Bank Indonesia di kompleks Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM), Senin (23/2/2026). Peninjauan ini dilakukan sebagai bentuk respons cepat Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor atas keluhan warga terkait dampak aktivitas pembangunan, mulai dari ceceran tanah yang mengotori jalan hingga kebisingan proyek di malam hari.
Dalam inspeksinya, Dedie memastikan pihak pelaksana telah menyiapkan fasilitas washing bay atau tempat pencucian truk guna mencegah tanah sisa bongkaran terbawa ke jalan utama Dr. Sumeru. Terkait isu kebisingan, Dedie menjelaskan bahwa sempat terjadi kondisi darurat dalam proses konstruksi yang mengharuskan pengerjaan lembur.
“Tapi insyaallah, begitu permasalahan pokok selesai, masyarakat tidak akan terganggu seperti kemarin,” ujar Dedie Rachim.
Ia juga mengungkapkan rencana besar penataan pedestrian dan taman di sepanjang Jalan Dr. Sumeru hingga RSUD Kota Bogor setelah rangkaian proyek ini tuntas.
Gene Bank Indonesia sendiri merupakan bagian dari transformasi kesehatan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika). Fasilitas ini dirancang sebagai pusat penyimpanan spesimen genetik manusia, seperti darah dan urin, untuk memetakan keanekaragaman genetik masyarakat Indonesia.
Ke depan, kawasan ini juga akan semakin lengkap dengan rencana pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Utama bagi Fakultas Kedokteran IPB University.
Direktur Utama PKJN RSMM, Nova Riyanti Yusuf, memaparkan bahwa Gene Bank akan menjadi hub penelitian genomik, khususnya untuk kesehatan jiwa. Fasilitas ini memungkinkan penanganan pasien jiwa kronis secara lebih presisi, terutama dalam menentukan dosis obat yang tepat dan meminimalisir efek samping berdasarkan profil genetik pasien.
Hal ini diharapkan dapat mengubah pola pikir para dokter dalam memberikan layanan kesehatan yang lebih akurat.
Kepala BB Binomika, Indri Rooslamiati, menambahkan bahwa proyek ini sangat krusial karena saat ini representasi genetik Indonesia di peta populasi global masih di bawah 1 persen. Dengan adanya peta genetik yang komprehensif, pemerintah dapat memberikan layanan kesehatan presisi yang lebih efektif dan efisien.
“Masyarakat bisa mendapatkan pengobatan yang lebih tepat, mengurangi efek samping, dengan dosis yang sesuai, dan pada akhirnya dapat menurunkan pembiayaan pengobatan,” pungkas Indri.

