Jakarta, denting.id – Relasi yang penuh tekanan ternyata tak hanya menguras emosi, tetapi juga bisa mempercepat toxic penuaan tubuh. Studi psikologi terbaru mengungkap, berhubungan dengan orang toxic berdampak nyata pada usia biologis seseorang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America dan dipimpin Byungkyu Lee dari New York University menemukan, “Setiap satu orang toxic dalam jaringan sosial berkaitan dengan percepatan penuaan sekitar 1,5 persen,” Selasa (24/02/2026).
Riset ini melibatkan lebih dari 2.300 responden di Indiana, Amerika Serikat. Peneliti mengukur usia biologis menggunakan metode metilasi DNA melalui sampel air liur. Berbeda dari usia kronologis, usia biologis menunjukkan kondisi tubuh yang sebenarnya—dan paparan relasi toxic terbukti memengaruhi angka tersebut.
Sebanyak 28,8 persen responden mengaku memiliki setidaknya satu orang toxic dalam lingkaran sosial mereka. Bahkan sekitar 10 persen memiliki dua orang atau lebih yang tergolong sebagai “hasslers”, yakni individu yang memicu stres dan tekanan emosional.
Hasilnya cukup mencolok. Rata-rata, mereka yang memiliki relasi toxic tercatat sembilan bulan lebih tua secara biologis dibandingkan dengan orang seusia yang tidak memiliki hubungan semacam itu. Dampak toxic ini lebih kuat jika berasal dari keluarga atau teman dekat.
Menariknya, pada pasangan, efek toxic relatif lebih kecil. Peneliti menduga pernikahan tetap memberi manfaat sosial tertentu seperti mengurangi rasa kesepian, sehingga dampaknya tidak sebesar relasi toxic lainnya.
Tak hanya mempercepat penuaan, relasi toxic juga dikaitkan dengan peningkatan peradangan dalam tubuh—faktor yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis.
Temuan ini menegaskan bahwa menjaga jarak dari hubungan toxic bukan sekadar soal kesehatan mental, tetapi juga investasi bagi kesehatan fisik dan usia yang lebih panjang.

