Jakarta, Denting.id – Nasib Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei, menjadi sorotan tajam menyusul laporan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Menurut laporan The New York Times yang mengutip citra satelit dari Airbus Defence and Space, kediaman resmi Khamenei di Teheran dilaporkan hancur total akibat serangan udara Israel pada pagi hari.
Citra satelit tersebut menyoroti kompleks Beit-e Rahbari, yang merupakan kediaman resmi sekaligus kantor administrasi dan lokasi pertemuan utama pemimpin tertinggi Iran berusia 86 tahun itu. Bukti visual menunjukkan area tersebut diduga menjadi target prioritas dalam gelombang awal ofensif gabungan.
Analisis terhadap gambar memperlihatkan kerusakan berat pada struktur bangunan, termasuk area yang menjadi tempat tinggal langsung Khamenei dan perimeter keamanannya. Para analis menilai pola kawah dan dampak ledakan konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker yang dirancang untuk menembus fasilitas bawah tanah yang diperkuat.
Namun hingga kini, keberadaan Khamenei belum dapat dipastikan. Belum ada pesan audio maupun video yang dirilis hingga laporan ini dibuat pada pukul 18.00 waktu setempat. Dalam berbagai krisis nasional sebelumnya, Khamenei biasanya segera menyampaikan pernyataan publik untuk menunjukkan stabilitas pemerintahan.
Sebelum serangan terjadi, kebocoran intelijen menyebutkan bahwa Khamenei telah dievakuasi secara tergesa-gesa ke bunker yang dirahasiakan. Meski demikian, efektivitas evakuasi tersebut kini dipertanyakan mengingat tingkat kerusakan yang dilaporkan terjadi di kompleks tersebut.
Sementara itu, jaringan televisi pemerintah Iran serta kantor berita semi-resmi seperti Fars dan Tasnim dilaporkan memberlakukan pembatasan ketat terhadap pemberitaan terkait status Khamenei. Siaran televisi sebagian besar beralih ke tayangan arsip keagamaan, musik patriotik, serta rekaman peluncuran rudal balasan.
Baca juga: Safari Ramadan di Aceh, Menteri Ekraf Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas
Hingga kini belum ada “bukti keberadaan” yang ditampilkan kepada publik Iran maupun komunitas internasional, sehingga spekulasi mengenai kondisi dan lokasi Khamenei terus berkembang di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas.

