Gen Z Terjebak Toxic Relationship? Simak Panduan Hubungan Sehat dari Psikiater dr. Lahargo Kembaren

Denting.id – Di era digital saat ini, hubungan asmara anak muda sering kali tampak indah di media sosial, namun menyimpan luka di balik layar. Isu toxic relationship atau hubungan beracun yang berujung kekerasan hingga gangguan mental kini menjadi perhatian serius.

Psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menyoroti bahwa Generasi Z tumbuh di tengah tekanan validasi online dan Fear of Missing Out (FOMO). Hal ini sering kali membuat batasan antara cinta dan obsesi menjadi kabur.

“Relasi yang sehat bukan tentang seberapa sering menghabiskan waktu bersama dengan gembira, tetapi seberapa aman, bertumbuh, dan dihargai dalam menjalankannya,” ujar dr. Lahargo.

Ciri-Ciri Relasi yang Sehat

Menurut dr. Lahargo, ada empat pilar utama dalam membangun hubungan yang berkualitas:

  1. Menghargai Batasan (Boundaries): Tidak ada paksaan membuka kata sandi ponsel atau tekanan untuk selalu online. Batasan adalah tanda cinta yang matang.

  2. Menjadi Diri Sendiri: Anda merasa aman mengekspresikan pendapat tanpa takut dihakimi atau ditinggalkan.

  3. Konflik Tanpa Ancaman: Masalah dibicarakan dengan kepala dingin, tanpa ada kekerasan verbal, fisik, maupun seksual.

  4. Kemandirian Emosional: Cinta yang sehat adalah pilihan untuk bersama karena saling melengkapi, bukan karena ketergantungan ekstrem yang memicu sikap posesif.

Tantangan Digital Generasi Z

Gen Z menghadapi tantangan unik seperti overthinking akibat tanda baca di chat, status last seen, atau pesan yang hanya dibaca (read) tanpa dibalas. Tekanan untuk terlihat “sempurna” di media sosial sering kali membuat mereka mengabaikan tanda bahaya (red flags).

“Jangan abaikan red flags seperti perilaku gaslighting atau upaya mengisolasi Anda dari teman dan keluarga. Itu bukan cinta,” tegasnya.

Pesan untuk Orang Tua: Rumah Adalah Sekolah Cinta Pertama

Dr. Lahargo juga mengingatkan bahwa fondasi hubungan anak dibangun dari apa yang mereka lihat di rumah. Orang tua memiliki peran krusial sebagai role model.

  • Tunjukkan Model Sehat: Anak belajar cara menyelesaikan konflik dari melihat bagaimana ayah dan ibu saling menghargai.

  • Komunikasi Terbuka: Dengarkan anak tanpa langsung menggurui agar mereka tidak takut bercerita saat menghadapi masalah.

  • Ajarkan Harga Diri: Anak dengan self-esteem yang kuat tidak akan membiarkan dirinya bertahan dalam hubungan yang abusif.

“Untuk anak-anak Gen Z, keterampilan membangun relasi itu sama pentingnya dengan akademik. Dan bagi orang tua, rumah adalah sekolah pertama tentang cinta. Ajarilah sebaik mungkin agar mereka tidak tersesat,” pungkas dr. Lahargo.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai