BOGOR, Denting.id – Ribuan warga memadati kawasan Jalan Suryakencana hingga Padasuka, Kota Bogor, Selasa (3/3/2026) malam, untuk menyaksikan kemeriahan Bogor Street Fest Cap Go Meh (BSF CGM) 2026. Meski berlangsung hingga menjelang tengah malam, antusiasme masyarakat tetap tinggi mengikuti parade budaya bertajuk “Harmony in Diversity”.
Perayaan tahun ini terasa istimewa karena digelar beriringan dengan Bulan Suci Ramadan. Kegiatan dimulai pukul 21.30 WIB dengan penampilan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Bogor. Suasana kian semarak saat Liong Merah Putih raksasa sepanjang 50 meter meliuk di sepanjang jalan, disusul atraksi Kie Lin yang memukau ribuan pasang mata.
Etalase Budaya Nusantara
BSF CGM 2026 tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi panggung kolaborasi lintas budaya. Penonton disuguhi perpaduan alunan qasidah dari Tim BIIFEST dengan Tari Kabasaran khas Minahasa yang enerjik.
Beragam kesenian lokal turut ambil bagian, mulai dari Sanggar EDAS, Drumband Canka Lembayung Muda, hingga atraksi Sisingaan dari Subang. Puncak perhatian tertuju pada aksi akrobatik 13 grup Liong dan Barongsai, termasuk Sen Lung, PSLB, dan Genta Jaya Lion Dance, yang tampil atraktif di bawah cahaya lampion yang menghiasi Jalan Suryakencana.
Komitmen Ekonomi dan Kemanusiaan
Di balik gemerlap parade, BSF CGM 2026 juga membawa misi sosial dan ekonomi. Lebih dari 300 pelaku UMKM dilibatkan dalam kegiatan ini. Panitia turut menghadirkan Pasar Malam “Tempo Doeloe” yang mengenalkan sejarah lokal, mulai dari kawasan Masjid Empang hingga kopi legendaris berusia 101 tahun.
Ketua Panitia BSF CGM 2026, Arifin Himawan, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang memadukan nilai budaya dan religi tersebut.
“Puji syukur hari ini kita dapat berkumpul dan bergabung bersama dalam rangkaian Perayaan Cap Go Meh Tahun 2026. Ini menjadi suatu hal yang luar biasa bagi kami, karena kita menyatukan dua momen dalam satu wadah, yaitu event kebudayaan dan event keagamaan (Bulan Suci Ramadan), yang kita bingkai dalam tema kebersamaan, ‘Harmony in Diversity’ atau Harmoni dalam Beragama,” ujar Arifin.
Ia menjelaskan, penyesuaian rute dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap kekhusyukan Ramadan.
“Karena bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan, pelaksanaan perayaan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun lalu. Jika biasanya rute parade mencapai 2,2 kilometer, kali ini kami menyesuaikan pelaksanaannya agar tetap kondusif, hidup berdampingan tanpa mengurangi semangat kebersamaan kita,” jelasnya.
CGM Peduli
Kepedulian sosial menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tahun ini. Pada awal Maret, panitia telah menggelar buka puasa bersama 400 anak yatim. Selanjutnya, sebanyak 200 anak difabel dijadwalkan akan dilibatkan dalam kegiatan “CGM Peduli” pada 8 Maret mendatang.
Arifin yang telah mengabdi selama 22 tahun dalam kepanitiaan sosial menutup pesannya dengan ajakan menjaga persatuan.
“Pesan saya: Sesuatu yang berbeda jangan pernah kita samakan. Bilamana sudah sama, jangan pernah dibeda-bedakan. Mari kita bersama-sama membangun Kota Bogor, membangun Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya.
Melalui semangat harmoni dan toleransi, BSF CGM 2026 kembali menegaskan wajah Kota Bogor sebagai ruang perjumpaan budaya yang rukun dan inklusif, bahkan di tengah suasana Ramadan.

