denting.id – Isu perang kembali memanas setelah keponakan Mary L Trump melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pamannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dinilai memicu eskalasi perang dengan Iran dan menelan korban sipil, termasuk anak-anak.
“Saya menantang siapa pun untuk membenarkan ini,” tulis Mary saat mengomentari dampak perang yang memicu kematian puluhan siswi sekolah dasar di Iran dalam unggahan di platform X.
Kritik Mary mencuat setelah beredar foto deretan makam baru di wilayah Minab, Iran selatan. Foto tersebut disebut sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi 165 siswi sekolah dasar yang tewas seketika ketika sekolah mereka hancur akibat serangan rudal yang dikaitkan dengan operasi militer Israel dan Amerika Serikat.
Menurut Mary, perang yang terjadi bukan sekadar persoalan politik luar negeri, tetapi tragedi kemanusiaan yang akan terus memakan korban jiwa dan menguras anggaran hingga miliaran dolar. Ia menilai keputusan memicu perang tersebut dilakukan tanpa landasan hukum maupun alasan yang sah.
Dalam catatan di blog pribadinya, Mary juga memperingatkan bahwa perang berpotensi merusak reputasi Amerika Serikat di mata dunia. Ia menyebut sekutu-sekutu Washington kini semakin meragukan kepercayaan terhadap negara tersebut.
“Perang ini akan menelan korban jiwa yang tak terhitung dan kerugian miliaran dolar yang tak terhitung. Dan itu juga akan merugikan kita sesuatu yang lain, reputasi kita yang tersisa,” tulisnya.
Mary bahkan memperingatkan bahwa eskalasi perang bisa semakin tidak terkendali karena menurutnya pihak yang memulainya tidak memahami konsekuensi yang harus dihadapi.
Tak hanya melalui blog, ia juga menyampaikan kemarahannya di media sosial dengan nada tajam. Ia menyebut perang tersebut sebagai “perang pilihan Donald” yang telah menewaskan anak-anak Iran serta sejumlah personel militer Amerika.
Sikap keras Mary terhadap pamannya bukan hal baru. Putri dari Fred Trump Jr. itu selama ini dikenal sebagai pengkritik paling vokal dalam keluarga besar Trump.
Sebelumnya, Mary juga menyinggung peran retorika politik yang menurutnya ikut memicu kekerasan politik di Amerika, termasuk tragedi yang menewaskan aktivis konservatif Charlie Kirk, pendiri Turning Point USA dan tokoh yang identik dengan gerakan Make America Great Again.
Dalam pandangannya, retorika politik yang keras dan memecah belah telah memperburuk situasi sosial-politik di Amerika Serikat dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas, termasuk perang yang berdampak pada masyarakat sipil.
