Pernikahan di Ujung Jalan? Psikolog Ungkap Tanda Pernikahan Harus Dipertahankan atau Diakhiri

denting.id – Tidak semua pernikahan berjalan mulus. Dalam perjalanan waktu, berbagai konflik dan persoalan kerap membuat seseorang mempertanyakan apakah pernikahan masih layak dipertahankan atau justru harus diakhiri demi kebaikan bersama.

“Sebenarnya tidak ada tolak ukur yang pasti untuk menilai apakah hubungan layak dipertahankan atau justru sebaiknya bercerai. Hal ini kembali lagi ke dinamika pasangan masing-masing,” kata Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi.

Menurut Winona, pernikahan dapat diibaratkan seperti sebuah rumah yang berdiri di atas sepuluh pilar utama. Pilar-pilar dalam pernikahan itu mencakup kecocokan kepribadian, komunikasi, kemampuan menyelesaikan konflik, masalah finansial, hingga hubungan seksual dan pola pengasuhan anak.

Selain itu, pilar pernikahan juga mencakup hobi serta kualitas diri, budaya keluarga dan lingkungan, pembagian peran dalam rumah tangga, serta nilai religius yang menjadi landasan hubungan pasangan.

Ia menjelaskan, sebelum memutuskan untuk mempertahankan atau mengakhiri pernikahan, pasangan perlu mengevaluasi kondisi pilar-pilar tersebut satu per satu untuk melihat apakah hubungan masih dapat diperbaiki.

“Coba bayangkan, rumah tangga itu layaknya sebuah rumah dengan sepuluh pilar penting. Dari sepuluh pilar itu, pertimbangkan mana yang masih baik dan tidak,” ujarnya.

Misalnya, jika dari sepuluh pilar pernikahan terdapat dua pilar yang mulai runtuh, pasangan perlu melihat apakah delapan pilar lainnya masih cukup kuat untuk menopang keberlangsungan hubungan.

“Kalau dari sepuluh pilar ada dua yang hancur, apakah delapan pilar lainnya masih bisa menopang keberlangsungan hubungan tersebut?” tambahnya.

Winona menegaskan, pernikahan yang sebagian besar pilarnya masih kuat dan masih bisa diperbaiki sebaiknya diperjuangkan. Namun jika sebagian besar pilar telah runtuh dan menimbulkan ketidaknyamanan mendalam, berpisah bisa menjadi pilihan yang lebih sehat.

Ia juga menekankan bahwa mengakhiri pernikahan tidak selalu berarti kegagalan dalam hidup. Dalam beberapa kondisi, keputusan tersebut justru menjadi langkah untuk menjaga kesehatan mental.

“Melepaskan bukan berarti kegagalan, bisa jadi ini bentuk perjuangan kita untuk tetap mempertahankan kesehatan mental kita,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pasangan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan mengakhiri pernikahan. Setiap pasangan perlu menilai kembali kondisi hubungan secara jujur sebelum menentukan langkah selanjutnya.

“Meski begitu, jangan juga terburu-buru untuk langsung melepas. Kamu perlu menilik ulang, tinjau kembali, masih bisa diperbaiki atau tidak,” kata Winona.

Pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang bagaimana dua orang dapat tumbuh bersama dan terus memperkuat pilar yang menopang hubungan mereka.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai