Kairo, denting.id – Ketegangan perang di Timur Tengah semakin memanas setelah Liga Arab memutuskan menggelar pertemuan darurat tingkat menteri luar negeri untuk membahas serangan Iran terhadap sejumlah negara Arab. Pertemuan perang tersebut dijadwalkan berlangsung melalui konferensi video pada Minggu (8/3).
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menilai situasi perang yang dipicu oleh serangan Iran sangat berbahaya bagi stabilitas kawasan. “Serangan yang dilakukan Iran sepenuhnya dikutuk. Ini bukan hanya pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, tetapi juga melanggar prinsip bertetangga baik,” kata Aboul Gheit dalam pernyataan resminya, Jumat (6/3/2026).
Pertemuan perang ini digelar atas permintaan beberapa negara Arab, yakni Yordania, Arab Saudi, Bahrain, Oman, Qatar, Kuwait, dan Mesir. Mereka meminta pembahasan khusus mengenai serangan Iran yang dinilai telah menyeret kawasan ke dalam potensi perang besar.
Menurut laporan Khbrn, rapat darurat ini akan menjadi forum penting bagi negara-negara Arab untuk menentukan sikap terhadap eskalasi perang yang semakin meluas di Timur Tengah.
Aboul Gheit memperingatkan bahwa serangan Iran telah menciptakan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Teheran dan negara-negara Arab. Situasi perang ini dinilai berpotensi menimbulkan keretakan serius di kawasan.
Ia menegaskan tidak ada pihak yang meremehkan dampak perang yang kini sedang dihadapi Iran. Namun, menurutnya, tidak ada alasan yang dapat dibenarkan bagi Teheran untuk menargetkan negara-negara Arab tetangga.
Liga Arab menilai serangan Iran justru berpotensi menyeret negara-negara Arab ke dalam perang yang sebenarnya bukan konflik mereka. Hal ini menjadi kekhawatiran utama banyak negara di kawasan.
Spekulasi pun muncul bahwa pertemuan darurat ini dapat membuka kemungkinan negara-negara Arab ikut terlibat dalam perang melawan Iran jika situasi terus memburuk.
Seperti diketahui, Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara di Timur Tengah dengan menyasar lokasi yang menampung aset militer Amerika Serikat. Serangan perang itu juga menargetkan Israel yang selama ini menjadi musuh utama Teheran.
Serangan tersebut merupakan balasan Iran atas operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026. Operasi itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah petinggi militer Garda Revolusi.
Sejauh ini, negara-negara Arab belum melakukan serangan balasan dalam konflik perang tersebut. Sebagian besar memilih sikap defensif dengan hanya mencegat rudal dan drone Iran yang memasuki wilayah mereka.
Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, misalnya, dilaporkan lebih fokus memperkuat sistem pertahanan udara untuk menghadapi ancaman perang dari rudal dan drone Iran.
Namun, beberapa serangan perang Iran tetap berhasil menembus pertahanan dan menghantam sejumlah wilayah seperti Bahrain, Dubai, dan Arab Saudi.
Kekhawatiran terhadap dampak perang yang lebih luas, termasuk terhadap ekonomi dan stabilitas kawasan, menjadi alasan utama negara-negara Arab menahan diri untuk tidak melancarkan serangan ofensif terhadap Iran.
