Beirut, denting.id– Roket Hizbullah kembali mengguncang wilayah utara Israel setelah menghantam posisi tentara Israel Defense Forces (IDF) di dekat perbatasan Lebanon–Israel, Jumat. Serangan roket tersebut menyebabkan delapan tentara Israel terluka, lima di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius.
Militer Israel mengonfirmasi dampak serangan tersebut. “Serangan roket yang menghantam posisi pasukan kami di wilayah utara menyebabkan delapan tentara terluka, lima dalam kondisi serius dan tiga lainnya mengalami luka ringan,” demikian keterangan militer Israel yang dikutip media setempat.
Laporan The Times of Israel menyebut para korban merupakan prajurit dari unit elite IDF, Brigade Givati. Setelah serangan roket terjadi, para tentara langsung dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Di antara korban luka ringan akibat roket tersebut terdapat putra Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich. Informasi itu dikonfirmasi oleh kantor menteri yang menyebut anak Smotrich berada di lokasi ketika roket Hizbullah menghantam posisi pasukan.
Serangan roket Hizbullah belakangan kembali meningkat di perbatasan utara Israel. Kelompok yang berbasis di Lebanon itu memperkuat serangan roket sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sekutu utama Hizbullah di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Israel juga meningkatkan operasi militernya di Lebanon. Angkatan Udara Israel melancarkan serangan udara ke Beirut pada Kamis malam hingga Jumat pagi dengan menargetkan sejumlah fasilitas yang diklaim sebagai basis Hizbullah.
Militer Israel menyatakan sedikitnya 10 gedung bertingkat di kawasan Dahiyeh, Beirut, menjadi sasaran serangan udara. Bangunan-bangunan tersebut disebut digunakan Hizbullah sebagai gudang drone serta markas operasional untuk merencanakan serangan terhadap Israel.
Serangan udara tersebut didahului oleh perintah evakuasi massal bagi warga di empat lingkungan utama di Dahiyeh. Pemerintah Lebanon memperingatkan langkah tersebut berpotensi memicu krisis kemanusiaan baru di kawasan padat penduduk itu.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menilai pengungsian besar-besaran akibat konflik dan serangan roket berpotensi menimbulkan dampak serius bagi warga sipil. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyatakan keprihatinan terhadap perintah evakuasi menyeluruh yang dikeluarkan Israel.
Sebagai balasan, Hizbullah turut mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga di sejumlah kota Israel yang berada dekat perbatasan Lebanon. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya serangan roket dan operasi militer yang terus memanas di wilayah tersebut.
Sementara itu, media pemerintah Lebanon melaporkan Israel juga menyerang sebuah gedung di kota pesisir Sidon tanpa peringatan sebelumnya. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai tujuh lainnya menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Sejak konflik kembali memanas awal pekan ini, otoritas kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 123 orang tewas dan 683 lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel di berbagai wilayah Lebanon. Ketegangan yang terus meningkat membuat ancaman serangan roket dan balasan militer di kawasan itu semakin sulit dikendalikan.
