Sekjen PBB Serukan Hentikan Pertempuran, Khawatir Konflik Timur Tengah Meluas

Hamilton, denting.id – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyampaikan kekhawatiran serius terhadap meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai berpotensi meluas dan sulit dikendalikan. Situasi konflik yang terus berkembang disebut dapat menimbulkan dampak besar bagi stabilitas regional hingga ekonomi global.

“Semua serangan ilegal di Timur Tengah dan sekitarnya menyebabkan penderitaan dan kerugian yang luar biasa bagi warga sipil di seluruh wilayah,” ujar Antonio Guterres dalam pernyataan resminya terkait meningkatnya konflik di kawasan tersebut, Jumat (6/3/2026).

Menurut Guterres, eskalasi konflik militer di Timur Tengah berisiko memicu krisis yang lebih luas jika tidak segera dihentikan. Ia pun menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat agar menghentikan konflik bersenjata dan kembali ke jalur diplomasi melalui perundingan damai.

“Taruhannya sangat tinggi,” kata Guterres, menegaskan bahwa kelanjutan konflik dapat membawa dampak serius bagi masyarakat sipil serta stabilitas global.

Dampak Konflik pada Warga Sipil

Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, mengatakan bahwa PBB akan terus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak guna mendorong penyelesaian konflik melalui negosiasi yang serius.

Ia menjelaskan bahwa jika konflik terus meningkat, situasi dapat semakin memburuk, termasuk ancaman terhadap stabilitas negara-negara di kawasan serta meningkatnya penderitaan warga sipil.

Selain itu, konflik juga berpotensi memengaruhi jalur perdagangan energi global, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur penting distribusi minyak dunia.

Menurut Dujarric, ketegangan konflik yang berkepanjangan bahkan telah memicu lonjakan harga minyak yang dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai negara.

Situasi Kemanusiaan Memburuk

Berdasarkan laporan dari Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), dampak konflik juga terlihat dari meningkatnya jumlah pengungsi di Lebanon.

Serangan udara yang terjadi di berbagai wilayah disebut telah menewaskan dan melukai puluhan warga sipil. Hingga saat ini, lebih dari 100.000 orang dilaporkan berlindung di pusat pengungsian kolektif akibat konflik yang terus berlangsung.

Di sisi lain, sejumlah rumah sakit di Beirut bagian selatan juga terpaksa menghentikan operasi medis dan mengevakuasi pasien karena meningkatnya intensitas konflik di wilayah tersebut.

PBB pun kembali menegaskan pentingnya penghentian konflik serta upaya diplomasi agar krisis kemanusiaan yang lebih besar dapat dicegah di kawasan Timur Tengah.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai