Jakarta, denting.id – Presiden Prabowo Subianto mengingatkan dunia terhadap ancaman nuklir yang dapat membawa dampak besar bagi seluruh negara, bahkan bagi negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik. Ancaman nuklir dinilai dapat menimbulkan kerusakan global yang sulit dikendalikan jika benar-benar terjadi perang berskala besar.
“Kekuatan bom nuklir Rusia itu bisa sampai ribuan kali lipat dibandingkan bom Hiroshima, sehingga daya hancurnya sangat besar,” ujar pengamat politik luar negeri Pitan Daslani dalam diskusi Zoomcast KompasTV Digital.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa dampak perang nuklir tidak hanya dirasakan negara yang terlibat konflik, tetapi juga negara lain di berbagai belahan dunia. Hal ini karena partikel radioaktif dari ledakan nuklir dapat menyebar melalui atmosfer.
Menurut Prabowo, penyebaran partikel nuklir dapat memicu bencana lingkungan global yang berbahaya bagi manusia dan ekosistem. Ia juga menyinggung potensi munculnya fenomena Nuclear Winter, yakni kondisi ketika debu dan partikel dari ledakan nuklir menutupi atmosfer bumi.
Jika fenomena tersebut terjadi, sinar matahari akan sulit menembus permukaan bumi dalam waktu lama. Dampaknya, suhu global bisa menurun drastis dan memicu krisis pangan di banyak negara.
Peran Trump dan Putin
Pengamat politik luar negeri Pitan Daslani menilai kekhawatiran Presiden Prabowo mengenai ancaman nuklir bukanlah hal yang berlebihan. Menurutnya, situasi geopolitik dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh keputusan para pemimpin negara besar.
Ia menyebut dua tokoh yang memiliki peran besar dalam menentukan arah konflik global, yaitu Presiden Vladimir Putin dari Rusia dan Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat.
Menurut Pitan, kekuatan persenjataan nuklir yang dimiliki Rusia bahkan disebut jauh lebih besar dibandingkan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada Pemboman Hiroshima 1945.
Ia menjelaskan, jika senjata nuklir dengan daya ledak besar digunakan, dampaknya bisa menghancurkan seluruh bangunan dalam radius ratusan kilometer dan membuat wilayah tersebut tidak layak dihuni manusia.
Karena itu, perkembangan hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan apakah ancaman nuklir dapat dihindari atau justru meningkat di masa mendatang.
