Jakarta, denting.id – Pemerintahan Presiden Donald Trump mulai meningkatkan perhatian terhadap mineral di benua Afrika di tengah ketegangan geopolitik global. Langkah mengamankan pasokan mineral ini dinilai menjadi strategi penting Amerika Serikat untuk menyaingi dominasi China dalam rantai pasok sumber daya penting dunia.
“Upaya membangun rantai pasok antara ekonomi terbesar dunia dan negara-negara yang memiliki cadangan mineral besar masih terbatas, namun sejak Trump kembali ke Gedung Putih dorongan untuk meningkatkan akses AS terhadap logam penting meningkat pesat,” tulis analis Antony Sguazzin dan William Clowes dalam analisis di Bloomberg, Minggu (8/3/2026).
Strategi baru Washington ini menargetkan negara-negara Afrika yang memiliki cadangan mineral strategis, termasuk Republik Demokratik Kongo yang dikenal sebagai salah satu produsen tembaga dan kobalt terbesar di dunia.
Selain itu, kebijakan tersebut juga disertai langkah politik dengan menjatuhkan sanksi terhadap militer Rwanda. Sanksi tersebut terkait konflik di wilayah timur Kongo yang selama ini dipenuhi perebutan sumber daya mineral bernilai tinggi.
Perusahaan AS Mulai Masuk
Seiring meningkatnya perhatian terhadap mineral Afrika, sejumlah perusahaan Amerika mulai berlomba-lomba menanamkan investasi di kawasan tersebut.
Konsorsium yang melibatkan Orion Resource Partners dan U.S. International Development Finance Corporation baru-baru ini menandatangani kesepakatan miliaran dolar untuk membeli 40 persen saham tambang milik Glencore di Kongo.
Kesepakatan tersebut bertujuan mengamankan produksi mineral seperti tembaga dan kobalt yang menjadi bahan penting dalam industri teknologi dan energi modern.
Selain itu, perusahaan Virtus Minerals juga dilaporkan mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi produsen mineral lain di Kongo yang bergerak di sektor tembaga dan kobalt.
Persaingan dengan China
Meski Amerika Serikat mulai meningkatkan investasi mineral di Afrika, pengaruh China di kawasan tersebut masih sangat kuat.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi antara Kongo dan China pada 2024 mencapai sekitar 28 miliar dolar AS, jauh melampaui perdagangan dengan Amerika Serikat yang hanya sekitar 1,6 miliar dolar.
Perusahaan China bahkan menguasai sebagian besar produksi mineral strategis di Afrika, mulai dari tembaga dan kobalt di Kongo hingga lithium di Zimbabwe.
Selain investasi tambang, Washington juga mendukung proyek infrastruktur seperti Koridor Lobito yang menghubungkan tambang di Kongo dan Zambia menuju pelabuhan di Angola.
Proyek tersebut diharapkan mempercepat pengiriman mineral Afrika ke pasar Amerika dan mengurangi ketergantungan pada jalur logistik yang selama ini didominasi oleh China.
Para analis menilai persaingan mendapatkan mineral strategis di Afrika kemungkinan akan semakin intens dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku industri teknologi dan energi.
