Jakarta, Denting.id – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa Teheran telah menghabiskan sekitar dua dekade mempelajari pola perang Amerika Serikat untuk membangun sistem pertahanan yang mampu tetap beroperasi bahkan jika ibu kota negara dibombardir.
Pernyataan itu menggambarkan lebih dari sekadar upaya ketahanan militer. Menurut Araghchi, langkah tersebut merupakan bagian dari doktrin pertahanan utama Iran yang dikenal sebagai “pertahanan mosaik terdesentralisasi”, sebuah strategi yang dirancang agar negara tetap mampu berperang meski struktur komando utama lumpuh.
Doktrin tersebut berangkat dari satu asumsi utama: dalam konflik dengan Amerika Serikat atau Israel, Iran berpotensi kehilangan komandan senior, fasilitas penting, jaringan komunikasi, bahkan kendali komando pusat. Meski demikian, kemampuan tempur harus tetap berjalan.
Dengan konsep ini, prioritas militer Iran tidak hanya mempertahankan ibu kota Teheran atau melindungi kepemimpinan tertinggi negara. Fokus utamanya adalah menjaga proses pengambilan keputusan tetap berlangsung, memastikan unit tempur terus beroperasi, serta mencegah perang berakhir hanya karena satu serangan besar dari musuh.
Strategi tersebut juga menunjukkan bahwa militer Iran tidak dirancang untuk konflik singkat. Sebaliknya, struktur militernya dipersiapkan untuk menghadapi perang jangka panjang yang tetap berjalan meski mengalami kerusakan besar pada infrastruktur komando.
Konsep “pertahanan mosaik” paling erat dikaitkan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), terutama pada masa kepemimpinan mantan komandannya, Mohammad Ali Jafari, yang memimpin pasukan tersebut dari 2007 hingga 2019.
Dalam kerangka ini, struktur pertahanan negara dibagi menjadi sejumlah lapisan regional dan unit semi-independen. Sistem ini dirancang untuk menghindari ketergantungan pada satu rantai komando terpusat yang dapat dilumpuhkan oleh serangan militer besar.
Model tersebut menggabungkan berbagai elemen militer, mulai dari IRGC, pasukan sukarelawan Basij, tentara reguler Iran, unit rudal, hingga aset angkatan laut dan komando lokal. Semua unsur itu berfungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan terdistribusi.
Baca juga: Iron Dome Israel Disebut Jebol, Drone Murah Iran Picu Sorotan Perang Teknologi
Dengan sistem ini, jika satu bagian militer terkena serangan, bagian lain tetap dapat beroperasi. Bahkan jika para pemimpin senior tewas atau jaringan komunikasi terputus, unit-unit lokal tetap memiliki otoritas serta kemampuan untuk mengambil tindakan secara mandiri.
