Jakarta, Denting.id – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengajukan tiga syarat utama untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel. Syarat tersebut meliputi pengakuan atas hak-hak sah Iran, pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang, serta jaminan internasional agar Iran tidak kembali diserang di masa depan.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian melalui unggahan di platform media sosial X (Twitter) pada Rabu (12/3/2026). Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada perdamaian di kawasan, namun penyelesaian konflik harus dilakukan secara adil bagi negaranya.
“Berbicara dengan para pemimpin Rusia dan Pakistan, saya menegaskan kembali komitmen Iran terhadap perdamaian di kawasan ini. Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini—yang dipicu oleh rezim Zionis dan AS—adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan,” tulisnya.
Tuntutan tersebut muncul setelah juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, memperingatkan bahwa seluruh pelabuhan dan pusat ekonomi di kawasan Teluk Persia dapat menjadi target jika Washington menyerang fasilitas pelabuhan Iran.
Shekarchi menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran siap meningkatkan operasi militer jika fasilitas strategis negaranya diserang. Ia juga menyerukan kepada negara-negara di kawasan agar mengusir pasukan Amerika dari wilayah mereka.
Sementara itu, laporan kantor berita Reuters menyebutkan bahwa para pejabat Israel dalam diskusi tertutup mengakui tidak ada jaminan perang melawan Iran akan menjatuhkan pemerintahan ulama di negara tersebut. Hingga kini juga tidak terlihat tanda-tanda pemberontakan besar di dalam negeri Iran meski serangan udara terus berlangsung.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan perang kemungkinan segera berakhir. Namun penilaian sejumlah pejabat Israel menyebutkan Washington belum memberikan sinyal jelas untuk menghentikan konflik.
Serangan udara intensif yang dilakukan AS dan Israel disebut telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior. Selain itu, serangan tersebut juga menyebabkan korban sipil dan kerusakan besar pada rumah serta fasilitas publik di berbagai kota, termasuk di ibu kota Teheran.
Di tengah situasi tersebut, warga Iran menghadapi tekanan berat. Selain ancaman keamanan akibat serangan militer, kondisi ekonomi juga semakin terpuruk akibat sanksi internasional yang semakin ketat, sementara peluang perbaikan ekonomi dinilai masih sangat terbatas.
