Jakarta, Denting.id – Konflik di Timur Tengah terus memanas setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke ibu kota Teheran pada 28 Februari lalu. Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan menargetkan berbagai titik strategis di kawasan, termasuk Tel Aviv, pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab, hingga infrastruktur energi di Teluk.
Situasi ini turut memicu ketegangan di jalur pelayaran penting dunia setelah Iran menutup Selat Hormuz. Sejumlah perkembangan terbaru terkait konflik tersebut terungkap hingga Kamis (12/3/2026).
Sebuah kapal kontainer dilaporkan terkena proyektil di dekat perairan Uni Emirat Arab. Insiden itu menyebabkan kebakaran kecil di atas kapal, menurut badan maritim Inggris.
Di perairan Selat Hormuz, tiga awak kapal dilaporkan terjebak di atas kapal pengangkut curah asal Thailand yang sebelumnya terkena serangan proyektil saat melintas di kawasan tersebut. Hingga kini, ketiganya belum berhasil diselamatkan.
Serangan juga menyasar fasilitas energi di Bahrain. Pemerintah setempat melaporkan ledakan tangki bahan bakar di wilayah Muharraq akibat serangan balasan Iran.
Sementara itu, Arab Saudi kembali menjadi target serangan drone. Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan dua drone yang menuju ladang minyak Shaybah Oil Field berhasil dicegat dan dihancurkan. Sebelumnya, satu drone juga ditembak jatuh di dekat distrik yang menampung sejumlah kedutaan asing.
Di Kuwait, militer juga berhasil mencegat beberapa drone. Namun sebuah kebakaran dilaporkan terjadi di sebuah gedung perumahan yang menyebabkan dua orang terluka.
Militer Israel menyatakan negaranya kembali diserang gelombang rudal, menyusul serangan sebelumnya yang terjadi bersamaan dengan operasi militer Israel di Teheran dan Beirut. Sistem pertahanan udara Israel dikerahkan untuk mencegat serangan tersebut.
Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan skala besar ke Teheran serta target milik kelompok Hezbollah di Beirut. Kelompok yang berbasis di Lebanon itu juga dilaporkan menembakkan puluhan roket dan rudal ke wilayah utara Israel.
Serangan juga dilaporkan terjadi di Irak setelah rudal menghantam pangkalan militer Amerika di wilayah utara negara tersebut, menewaskan sedikitnya dua orang.
Di Beirut, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan tujuh orang tewas dan 21 lainnya terluka akibat serangan Israel di kawasan tepi laut, tempat sejumlah pengungsi bermalam di ruang terbuka.
Di tengah eskalasi konflik, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran “hampir kalah” setelah serangan militer Amerika. Ia mengklaim operasi militer tersebut berhasil melemahkan Iran secara signifikan.
Di sektor energi, dua kapal tanker minyak juga diserang di lepas pantai Irak. Otoritas pelabuhan melaporkan setidaknya satu awak kapal tewas dan beberapa lainnya hilang, sementara 38 orang berhasil diselamatkan.
Lonjakan harga minyak akibat konflik ini mendorong langkah darurat dari negara-negara anggota International Energy Agency (IEA). Amerika Serikat mengumumkan akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya sebagai bagian dari kesepakatan pelepasan total 400 juta barel oleh negara anggota IEA untuk menstabilkan pasar global.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan telah melakukan operasi rudal gabungan dengan Hizbullah untuk menyerang target di Israel.
Baca juga: Iran Ajukan Tiga Syarat untuk Akhiri Perang dengan AS dan Israel
Sementara itu, laporan militer Amerika kepada parlemen menyebutkan biaya perang yang dikeluarkan Washington telah mencapai sekitar US$11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama konflik. Serangan drone Israel juga dilaporkan kembali menghantam Teheran dan menewaskan sejumlah anggota pasukan keamanan Iran yang berjaga di pos pemeriksaan.
