Jakarta, Denting.id – Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.507 pada Jumat (10/4/2026). Di tengah konflik berkepanjangan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan gencatan senjata sementara dalam rangka Paskah Ortodoks.
Berdasarkan pernyataan resmi Kremlin, gencatan senjata akan dimulai pada Sabtu, 11 April pukul 16.00 waktu Moskow hingga Minggu, 12 April tengah malam. Keputusan tersebut disebut diambil secara sepihak tanpa negosiasi dengan Amerika Serikat maupun Ukraina.
“Berdasarkan keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Federasi Rusia Vladimir Putin, gencatan senjata telah diumumkan menjelang Paskah Ortodoks,” demikian pernyataan Kremlin.
Selama periode tersebut, pasukan Rusia diperintahkan untuk menghentikan seluruh operasi tempur di semua wilayah. Namun demikian, mereka tetap dalam kondisi siaga guna mengantisipasi kemungkinan serangan atau provokasi.
Menteri Pertahanan Rusia Andrey Belousov bersama Kepala Staf Umum Valery Gerasimov telah menerima instruksi langsung untuk menghentikan operasi militer selama masa gencatan senjata tersebut.
Rusia juga menyatakan harapannya agar Ukraina dapat mengikuti langkah tersebut dengan turut mengumumkan gencatan senjata selama perayaan Paskah Ortodoks.
Konflik Rusia-Ukraina sendiri memiliki akar panjang yang dipicu oleh kedekatan Ukraina dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang dianggap mengancam kepentingan strategis Rusia.
Ketegangan semakin meningkat sejak Revolusi Maidan di Kyiv pada 2014 yang mendorong Ukraina semakin condong ke Barat. Sebagai respons, Rusia mencaplok wilayah Krimea dan konflik bersenjata pecah di kawasan Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia.
Baca juga: Mojtaba Khamenei: Iran Tak Ingin Perang, Tegaskan Pertahankan Hak Nasional
Puncak eskalasi terjadi pada 2022 ketika Putin memerintahkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina, yang hingga kini masih berlangsung dan menimbulkan dampak luas bagi stabilitas global.

