Iran Isyaratkan Fase Baru Selat Hormuz di Tengah Gencatan Senjata Rapuh dengan AS

Jakarta, Denting.id – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengisyaratkan dimulainya fase baru dalam pengelolaan Selat Hormuz di tengah gencatan senjata rapuh antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, namun tidak akan mengorbankan hak-haknya. “Kami tidak mencari perang dan kami tidak menginginkannya, tetapi kami tidak akan melepaskan hak kami,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan AS, yang membuka peluang bagi negosiasi damai menyusul ancaman keras dari Presiden AS, Donald Trump.

Khamenei juga mengingatkan rakyat Iran agar tetap aktif menyuarakan dukungan di ruang publik, meskipun gencatan senjata tengah berlangsung. Ia menilai tekanan publik dapat memengaruhi hasil negosiasi yang sedang berjalan.

Di sisi lain, ketegangan kawasan masih tinggi. Iran memperingatkan akan memberikan respons keras jika sekutunya, Hizbullah, terus menjadi sasaran serangan Israel. Serangan terbaru Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang dalam satu hari, menjadi yang paling mematikan sejak konflik dimulai.

Upaya diplomasi pun mulai terlihat. Benjamin Netanyahu disebut telah menyetujui pembicaraan langsung dengan Lebanon yang direncanakan berlangsung di Washington pekan depan, meskipun pihak Lebanon belum memberikan tanggapan resmi.

Konflik yang memanas sejak akhir Februari 2026 ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengguncang ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia—memicu lonjakan harga energi secara signifikan.

Harga minyak mentah dunia, termasuk Brent, sempat menembus angka 100 dolar AS per barel, memicu krisis energi di berbagai negara. Kondisi ini justru menguntungkan Rusia, yang mengalami lonjakan pendapatan dari sektor minyak.

Dalam situasi pasokan global terganggu, permintaan terhadap minyak Rusia meningkat tajam. Analis energi menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak secara langsung mendorong peningkatan penerimaan pajak dan pendapatan negara, meskipun produksi tidak mengalami peningkatan signifikan.

Baca juga: IRGC Ancam Serang Tesla hingga Raksasa Teknologi AS, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga menggeser peta ekonomi global, khususnya di sektor energi.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai