Jakarta, Denting.id – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah perundingan penting yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Media pemerintah Iran, Press TV Iran, melaporkan kegagalan negosiasi dipicu oleh tuntutan berlebihan dari pihak AS yang dinilai menghambat tercapainya kesepakatan bersama.
Dalam pembicaraan tersebut, sejumlah isu krusial menjadi sumber perbedaan, mulai dari pengelolaan Selat Hormuz, hak Iran atas program nuklir damai, hingga kepentingan strategis lainnya di kawasan.
Sumber yang dekat dengan delegasi Iran, seperti dikutip kantor berita Fars News Agency, menyebut Washington berupaya memperoleh melalui jalur diplomasi apa yang tidak berhasil dicapai dalam konflik sebelumnya.
Iran disebut menolak keras sejumlah tuntutan AS yang dianggap terlalu ambisius, khususnya terkait kontrol atas Selat Hormuz dan pembatasan program energi nuklir damai. Fars menegaskan bahwa peluang tercapainya kesepakatan kini bergantung pada kesediaan AS untuk merevisi tuntutan yang dinilai “tidak masuk akal”.
Meski perundingan menemui jalan buntu, upaya diplomatik belum sepenuhnya berhenti. Peran Pakistan sebagai mediator disebut cukup aktif dalam menjembatani perbedaan kedua pihak. Delegasi Iran dan AS juga telah kembali ke tim teknis masing-masing untuk mengkaji ulang draf kesepakatan sebelum pembicaraan dilanjutkan.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Washington telah mengajukan “penawaran terakhir dan terbaik” kepada Iran. Ia mengungkapkan selama 21 jam perundingan berlangsung, tim AS terus berkomunikasi intensif dengan Presiden Donald Trump.
“Kami berbicara dengan presiden secara konsisten—mungkin setengah lusin hingga belasan kali dalam 21 jam terakhir,” ujar Vance.
Menurutnya, meski diskusi berlangsung substantif, hasil akhir tetap mengecewakan karena tidak tercapai kesepakatan. Ia bahkan menilai kegagalan ini lebih merugikan Iran dibandingkan Amerika Serikat.
Vance juga menegaskan garis merah Washington yang tidak bisa dinegosiasikan, yakni komitmen tegas Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Fakta sederhananya, kami membutuhkan komitmen afirmatif bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, termasuk kemampuan yang memungkinkan mereka mencapainya dengan cepat,” tegasnya.
Ia menambahkan, persoalan utama saat ini bukan hanya kondisi saat ini, tetapi jaminan jangka panjang terkait program nuklir Iran. Hingga kini, AS mengaku belum melihat komitmen tersebut dari Teheran.
Baca juga: Iran Isyaratkan Fase Baru Selat Hormuz di Tengah Gencatan Senjata Rapuh dengan AS
Gagalnya perundingan ini kembali menambah daftar panjang kebuntuan diplomatik antara kedua negara, sekaligus membuka potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah—terutama di jalur vital perdagangan global, Selat Hormuz.

