Padang Pariaman Dilanda Banjir Setelah 40 Tahun: Siklon Tropis & Alih Fungsi Lahan Jadi Biang Kerok?

Jakarta, denting.id – Bencana banjir yang menyapu Padang Pariaman, Sumatera Barat, bukan hanya memutus sejarah 40 tahun tanpa genangan, tetapi juga memicu alarm keras soal perubahan alam dan tata ruang yang kian kritis. Pemerintah menyebut cuaca ekstrem akibat siklon tropis serta alih fungsi lahan sebagai kombinasi yang mematikan.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti mengungkapkan, berdasarkan penjelasan dari Kepala BMKG periode 2017–2025 Dwikorita Karnawati, banjir ini dipicu siklon tropis senyar di sekitar garis khatulistiwa yang memicu hujan ekstrem berhari-hari.

“Padang Pariaman sudah 40 tahun tidak pernah banjir, tapi sekarang terjadi banjir besar seperti ini. Ini murni dampak cuaca ekstrem yang tak henti selama empat hari,” kata Diana di Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Namun bukan hanya faktor alam. Diana menegaskan persoalan tata ruang dan alih fungsi lahan juga berperan besar. “Area yang dulunya hutan, kini berubah jadi permukiman atau lahan lain. Itu juga memberikan andil terhadap terjadinya banjir,” katanya.

Infrastruktur Terputus dan Kerusakan Meluas

Dampak bencana di Sumatera Barat terasa masif. Salah satunya: Jalan Nasional Padang–Bukittinggi lumpuh total akibat longsor di kawasan Lembah Anai.

Kepala BPJN Sumatera Barat Elsa Putra Friandi menjelaskan material longsor menutup badan jalan sepenuhnya. “Akses tidak bisa dilalui. Penanganan dan pembersihan sedang berlangsung,” ujarnya.

Laporan BWS Sumatera V menunjukkan curah hujan ekstrem mencapai 212 mm per hari di DAS Anai, menyebabkan luapan sungai, sedimentasi, banjir, dan longsor di Padang Pariaman, Kota Padang, Solok, Tanah Datar, Agam, Pesisir Selatan, hingga Pasaman Barat.

Intake-intake PDAM juga terganggu akibat sedimen yang menumpuk, sementara rumah, lahan pertanian, fasilitas umum, dan akses permukiman ikut terdampak.

Upaya Penanganan Darurat

Kementerian PU mengerahkan 15 unit alat berat untuk mempercepat penanganan di titik-titik bencana.

BWS Sumatera V mengirim excavator long arm untuk membersihkan sedimentasi di intake PDAM Sungai/Batang Kuranji serta memberikan bantuan bronjong ke Solok dan Tanah Datar. Upaya lanjutan berupa normalisasi sungai, pembentukan alur, dan pembangunan struktur pengendali banjir juga disiapkan sesuai masterplan.

Dukungan bagi warga terdampak turut diberikan Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Barat berupa penyediaan dua toilet portable serta dua unit hunian umum (HU) di SMP 44 Kecamatan Pauh, Padang, yang kini menjadi lokasi pengungsian sementara.

Baca juga : Desakan Status Darurat Nasional Menguat, Prabowo Pilih Hati-Hati: “Kita Pantau Terus”

Baca juga : Situasi Aceh Kritis: Komunikasi Lumpuh, PMI Desak Pemerintah Kirim Bantuan Luar Biasa

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *