Di Balik Padatnya Tawaf, Peran Muthawif Jadi Penjaga Sah dan Khusyuknya Ibadah Umrah

Makkah, denting.id — Di tengah lautan manusia yang tak henti mengitari Ka’bah, kekhusyukan ibadah umrah sering kali diuji oleh kepadatan, kelelahan fisik, hingga kebingungan jemaah menjalankan rukun sesuai tuntunan. Di saat itulah peran muthawif menjadi kunci, menjaga agar ibadah tetap sah, tertib, dan bermakna.

Muthawif bukan sekadar pemimpin rombongan atau penunjuk arah. Mereka memikul amanah besar untuk memastikan setiap jemaah memahami dan menjalankan rukun serta wajib umrah sesuai fikih. Tanggung jawab itu dirasakan betul oleh Muhammad Nuh Salam Lubis (25), muthawif muda asal Indonesia yang kini menetap di Makkah.

“Kalau soal arah masih bisa dibantu, tapi kalau salah menjawab hukum ibadah, itu bisa berdampak pada sah tidaknya umrah,” ujar Nuh.

Nuh berasal dari Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Perjalanannya menjadi muthawif dimulai dari bangku kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, tempat ia menyelesaikan studi S1 Hukum Syariah. Awalnya bercita-cita menjadi pengajar, namun pengalaman bekerja sambilan sebagai pemandu wisata membentuk keterampilan lapangan yang kelak menjadi bekal berharga.

Sejak 2023, Nuh menetap di Makkah dan aktif mendampingi jemaah umrah dan haji sebagai muthawif lepas. Ia menuturkan, profesi ini tidak mensyaratkan sertifikasi resmi, tetapi justru menuntut pembuktian kapasitas melalui ilmu dan pengalaman.

Menurut Nuh, penguasaan bahasa Arab menjadi kunci utama, disusul pemahaman fikih ibadah yang mendalam. Pertanyaan jemaah bisa muncul kapan saja, bahkan di tengah prosesi tawaf, sehingga muthawif dituntut sigap dan tepat dalam menjawab.

“Tidak bisa sembarangan. Walaupun tidak ada sertifikat, pengalaman dan ilmu itulah yang membawa jemaah menjalankan ibadah yang sah dan mabrur,” katanya.

Di lapangan, tantangan tak hanya soal teknis ibadah. Muthawif juga harus menjaga ketenangan jemaah di tengah jadwal padat dan situasi Masjidil Haram yang sering penuh sesak. Keterlambatan agenda kerap terjadi bukan karena kelalaian, melainkan kondisi yang sulit dikendalikan.

“Kita harus ekstra sabar dan saling mengingatkan agar jemaah tetap tenang dan memahami situasi,” ujar Nuh.

Peran penting muthawif juga dirasakan langsung oleh Agus Sugiarto, salah satu jemaah Program Umrah untuk Sahabat Adira. Menurutnya, tanpa pendamping yang kompeten, jemaah bisa salah niat, keliru urutan ibadah, atau justru kebingungan di tengah keramaian.

“Kalau muthawifnya tenang dan menguasai, jemaah ikut tenang. Ini bukan cuma soal ilmu, tapi kesabaran dan tanggung jawab moral,” kata Agus.

Di balik tugas teknis dan fisik, Nuh memandang profesi muthawif sebagai amanah spiritual. Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan rangkaian umrah, melainkan membantu jemaah meraih kemabruran—pulang dengan hati yang lebih bersih dan sikap hidup yang lebih baik.

“Ibadah ini momen untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menata ulang niat hidup,” tuturnya.

Di tengah hiruk pikuk Tanah Suci yang nyaris tak pernah sepi, muthawif bekerja dalam senyap. Mereka bukan pusat perhatian, tetapi penjaga agar ibadah tetap berada di jalurnya dan kekhusyukan tetap terpelihara.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *