Kota Bogor, Denting.id – Suara penolakan terhadap kebijakan penghapusan angkutan kota (angkot) berusia di atas 20 tahun di Kota Bogor terus bergulir kencang dari para pelaku di lapangan. Syahrul (54), salah satu pengemudi angkot dari Trayek 16, menegaskan sikapnya untuk menolak keras rencana pemerintah yang akan mulai menghapus armada keluaran tahun 2005 ke bawah pada tahun ini.
Keberatan atas Ambang Batas Usia
Bagi Syahrul dan rekan-rekan sejawatnya, aturan yang menetapkan batas usia operasional maksimal 20 tahun tersebut dianggap sangat memberatkan. Ia menyatakan bahwa mayoritas armada yang masih beroperasi saat ini berada pada rentang tahun produksi 2000 hingga 2002.
“Kalau yang usia angkot 20 tahun itu 2025 itu kami tolak asli kami pokoknya yang akan dihapus kami tolak semua 2025 kebawah. Kami akan bergerak,” tegas Syahrul saat menyampaikan keluahnnya di awak media pada Kamis 22 Januari 2026.
Ia mengingatkan bahwa kendaraan tersebut didapatkan dengan perjuangan ekonomi yang tidak mudah. “Angkot kami mau dianggap apa? Kami itu boleh beli, boleh cicilan itu. Nah kalau sekarang mau dihapus begitu saja maka kami tidak setuju,” tambahnya.
Cicilan Mobil Baru yang Tidak Terjangkau
Poin utama yang menjadi keberatan para sopir bukan sekadar mempertahankan kendaraan tua, melainkan ketidakmampuan finansial untuk beralih ke armada baru atau “Mobil Tayo” yang disiapkan pemerintah. Syahrul memaparkan bahwa skema cicilan kendaraan baru saat ini jauh melampaui kemampuan pendapatan harian para sopir angkot.
“Dampak nya kita tidak mampu membayar angsuran kalau diganti dengan yang baru karena apa? Cicilannya melebihi dari target pendapatan kita,” ungkapnya. Menurut perhitungannya, cicilan bulanan yang mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta selama empat tahun mustahil bisa tertutupi dari setoran harian.
Menuntut Solusi Jalan Tengah
Sebagai solusi, Syahrul meminta pemerintah untuk menunda kebijakan penghapusan ini setidaknya hingga tahun 2030. Ia juga berharap pemerintah menyediakan opsi pengadaan armada bekas yang masih layak jalan namun dengan cicilan yang masuk akal bagi kantong rakyat kecil.
“Kalau sampai 3juta lebih sampai 4tahun… kalau sampai 2juta kebawah barangkali kita dan kawan-kawan masih mampu. Itulah dari saya dari trayek 16,” pungkasnya. Para pengemudi berharap pemerintah Kota Bogor mau mendengar realita beban ekonomi di jalanan sebelum benar-benar mengeksekusi penertiban armada tua.

