Harga Emas Dunia Turun Lebih dari 1%, Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Jakarta, Denting.id – Harga emas dunia mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin, dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Mengutip laporan CNBC, Selasa (10/3/2026), harga emas spot tercatat turun 1,5 persen menjadi USD 5.091,62 per ounce. Sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup melemah 1,1 persen ke level USD 5.103,70 per ounce.

Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, mengatakan bahwa meningkatnya kekhawatiran inflasi serta ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi akibat ketidakpastian perang memberikan tekanan terhadap harga emas.

Meski demikian, ia menilai konflik yang berlangsung berkepanjangan justru dapat menjaga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

“Konflik yang berkepanjangan diperkirakan akan mempertahankan permintaan aset safe haven dan memberikan batas bawah bagi harga emas,” kata Wyckoff.

Selama ini, emas dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Ketika suku bunga berada pada level rendah, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil atau zero-yield asset biasanya meningkat.

Penguatan dolar AS terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang mendekati USD 120 per barel. Kondisi ini membuat investor cenderung mencari likuiditas karena khawatir perang berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi dan menekan pertumbuhan ekonomi global.

Dolar yang lebih kuat juga membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Di sisi lain, situasi geopolitik semakin memanas setelah militer Israel dilaporkan melancarkan serangan di wilayah tengah Iran serta menargetkan ibu kota Lebanon, yakni Beirut. Konflik tersebut juga berdampak pada aktivitas di Selat Hormuz yang dilaporkan praktis tertutup.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta gas alam cair yang diangkut melalui laut melewati wilayah tersebut di dekat pantai Iran.

Sementara itu, pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) untuk Februari dijadwalkan dirilis pada Rabu, disusul indikator inflasi pilihan bank sentral AS, Personal Consumption Expenditures Index (PCE), pada Jumat.

Wyckoff menilai jika data inflasi yang dirilis menunjukkan angka tinggi, hal itu berpotensi menempatkan Federal Reserve dalam posisi sulit dan bisa mendorong penurunan harga emas lebih lanjut.

Pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Maret dan secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

Baca juga: Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Kuat Bikin Rupiah Lebih Mudah Dikendalikan 

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot tercatat turun 0,2 persen menjadi USD 84,18 per ounce. Sementara platinum naik 1,1 persen ke level USD 2.158,02 per ounce dan palladium melonjak 2,4 persen menjadi USD 1.663,79 per ounce.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai