Jakarta, Denting.id — Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus meningkat dan memunculkan kekhawatiran mengenai besarnya biaya yang harus ditanggung Washington.
Akhir pekan lalu, dua sumber di Kongres mengatakan kepada penyiar Amerika Serikat MSNOW bahwa konflik tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,8 triliun per hari.
Namun sehari kemudian, media politik Politico melaporkan bahwa sejumlah anggota Partai Republik di Capitol Hill secara pribadi khawatir biaya yang dikeluarkan Pentagon bahkan bisa mendekati 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,7 triliun per hari.
Pemimpin Minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries, mengkritik keras kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilainya mendorong Amerika kembali ke konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
“Trump sedang menjerumuskan Amerika ke dalam konflik tanpa akhir di Timur Tengah dan menghabiskan miliaran dolar untuk membombardir Iran,” kata Jeffries kepada wartawan dalam konferensi pers di Capitol Hill, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (10/3/2026).
Jeffries juga menyoroti kontras antara besarnya anggaran perang dengan masalah domestik di Amerika Serikat.
“Namun mereka tidak bisa menemukan satu sen pun untuk membuat layanan kesehatan lebih terjangkau bagi rakyat Amerika ketika mereka membutuhkan dokter,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga dinilai tidak memiliki anggaran untuk membantu warga membeli rumah pertama maupun menurunkan harga kebutuhan pokok.
Trump, yang memenangkan pemilihan presiden 2024 dengan janji menurunkan biaya hidup masyarakat, kini dilaporkan mengalami penurunan popularitas. Survei Reuters dan Ipsos yang dilakukan beberapa jam setelah serangan militer AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari menunjukkan dukungan publik terhadap perang tersebut relatif rendah.
Hingga kini, Pentagon sebagai markas United States Department of Defense belum merilis estimasi resmi biaya perang. Namun sejumlah analis memperkirakan meningkatnya pengeluaran militer dapat menjadi isu sensitif bagi pemilih, terutama menjelang pemilu paruh waktu di AS.
Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai biaya konflik tersebut, anggota DPR dari Pennsylvania, Brendan Boyle, meminta Congressional Budget Office (CBO) melakukan analisis mendalam mengenai biaya sebenarnya dari perang.
Dalam surat resmi yang dikirim pada 5 Maret, Boyle meminta CBO menghitung berbagai komponen biaya, termasuk operasional militer, logistik, serta dukungan perang yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan penggunaan kekuatan militer di Iran.
Selain itu, ia juga meminta estimasi biaya tambahan seperti operasi diplomatik dan bantuan luar negeri, serta analisis biaya peluang, termasuk dampaknya terhadap kemampuan AS merespons potensi agresi China jika kapal induk yang berada di sekitar Taiwan harus dipindahkan ke kawasan Iran.
Baca juga: Korea Utara : Kim Jong Un Panaskan Mesin Perang, Dunia Khawatir Konflik Baru Meledak
Boyle juga meminta kajian mengenai dampak ekonomi perang terhadap harga-harga serta beberapa skenario konflik, termasuk jika perang berlangsung lebih dari empat hingga lima pekan atau bahkan melibatkan pengerahan pasukan darat AS ke Iran.
