Krisis Energi Global Berlanjut, Perang Iran Lumpuhkan Distribusi Minyak Meski Diplomasi Mulai Terbuka

Jakarta, Denting.id – Krisis energi global diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat meskipun jalur diplomasi mulai terbuka di tengah konflik Iran. Gangguan besar terhadap pasokan minyak dunia disebut masih akan berlangsung akibat kerusakan infrastruktur energi yang parah.

Berdasarkan analisis firma konsultan geopolitik Eurasia Group, pemulihan distribusi energi global tidak bisa terjadi secara instan, bahkan jika konflik segera berakhir.

Direktur pelaksana Eurasia Group, Henning Gloystein, menjelaskan bahwa perbaikan kilang minyak dan fasilitas energi di kawasan Teluk Persia membutuhkan waktu berbulan-bulan.

“Pemulihan tidak bisa terjadi dalam semalam. Bahkan jika perang berhenti hari ini, sektor logistik masih membutuhkan waktu untuk pulih,” ujarnya seperti dikutip laporan AP, Selasa (7/4/2026).

Ia juga menambahkan bahwa perusahaan pelayaran tanker minyak memerlukan setidaknya dua bulan untuk kembali beroperasi normal setelah konflik mereda.

Lalu Lintas Kapal Anjlok Drastis

Kondisi jalur pelayaran global saat ini disebut sangat memprihatinkan. Data panel PBB menunjukkan jumlah kapal yang melintas turun drastis dari sekitar 130 kapal per hari menjadi hanya enam kapal pada Maret.

Dampak gangguan ini terlihat jelas di kawasan Asia Tenggara, di mana puluhan kapal tanker justru menganggur.

“Setidaknya ada 70 kapal tanker minyak mentah kosong berukuran besar yang berlabuh di lepas pantai timur Singapura dan Malaysia,” ungkap Gloystein.

Kapal-kapal tersebut memiliki kapasitas gabungan hingga 100 juta barel minyak mentah. Dalam kondisi normal, minyak ini seharusnya sudah didistribusikan dari kawasan Teluk ke berbagai kilang di Asia.

Namun, proses logistik yang panjang menjadi hambatan utama. Perjalanan tanker dari Asia ke Teluk Persia memakan waktu sekitar empat minggu, sehingga distribusi minyak baru bisa kembali normal sekitar delapan minggu setelah keberangkatan.

Selat Hormuz Masih Rentan

Di tengah situasi ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut adanya peluang diplomasi dengan Iran yang berlangsung dengan “niat baik”.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tetap menjadi tantangan besar.

Trump memperingatkan bahwa jalur strategis tersebut sangat rentan terhadap gangguan kecil sekalipun.

“Untuk menutup Selat, yang dibutuhkan hanyalah satu aksi sabotase sederhana,” ujarnya.

Harga Minyak Melonjak, Konsumen Terpukul

Ketidakpastian geopolitik ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak mentah Brent kini bertahan di kisaran US$ 110,37 per barel, melonjak tajam dari sekitar US$ 70 sebelum konflik.

Kenaikan ini juga dirasakan langsung oleh konsumen, khususnya di Amerika Serikat, di mana harga bensin nasional naik menjadi US$ 4,12 per galon—level tertinggi sejak 2022, menurut data AAA.

Dalam jangka pendek, para analis memperingatkan bahwa pasar akan terus mengalami kekurangan pasokan. Bahkan jika pengiriman melalui Selat Hormuz mulai meningkat, ketersediaan minyak tetap terbatas.

“Keketatan pasokan ini terlihat dari lonjakan harga bahan bakar utama seperti bahan bakar jet dan bahan bakar bunker,” kata Gloystein.

Baca juga: Iran Sindir Donald Trump: “You’re Fired!”, Ketegangan Selat Hormuz Memanas

Situasi ini menegaskan bahwa krisis energi global masih jauh dari kata usai, dengan dampak yang terus merembet ke berbagai sektor ekonomi dunia.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai