Jakarta, Denting.id – Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengenai Pemilu 2029 menjadi sorotan setelah ia menyebut kontestasi politik tersebut masih jauh ketika ditanya soal dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk kembali berpasangan.
Jokowi menyampaikan pernyataan tersebut saat ditemui di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Kamis (8/10/2026).
“Pemilu masih jauh,” kata Jokowi.
Ia juga meminta seluruh pihak untuk lebih dahulu fokus bekerja, baik di bidang politik maupun pemerintahan, demi kepentingan masyarakat.
“Masih jauh 2029. Semuanya kerja dulu. Entah kerja politik, entah kerja pemerintahan. Kerja untuk rakyatlah semuanya,” ujarnya.
Pernyataan itu berbeda dengan sikap Jokowi sebelumnya. Pada 19 September 2025, ia secara terbuka meminta para relawannya mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua periode.
Berdasarkan catatan Kompas.com, Jokowi saat itu menyebut dukungan tersebut telah disampaikannya sejak awal.
“Sejak awal saya sampaikan seluruh relawan untuk itu. Ya memang sejak awal saya perintahkan seperti itu, untuk mendukung pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran dua periode,” ungkap Jokowi saat ditemui di kediamannya di Sumber, Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/9/2025).
Menanggapi pernyataan terbaru Jokowi, Partai Gerindra menyatakan menghormati sikap politik setiap pihak. Partai tersebut memilih memprioritaskan keberhasilan program pemerintahan Prabowo.
Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengatakan partainya menghormati pilihan politik Jokowi maupun partai-partai lain, termasuk Golkar.
“Ya, kita sekali lagi, apa pun sikap kawan-kawan lain, apakah Pak Jokowi atau Golkar atau partai-partai lain, prinsipnya apa pun pilihan politik, sikap mereka kita pasti menghormati,” ujar Sugiat, Jumat (9/10/2026).
Sugiat menambahkan, Prabowo berulang kali mengingatkan kader Gerindra dalam rapat internal bahwa Pemilu 2029 masih jauh. Karena itu, partainya belum menjadikan kontestasi politik mendatang sebagai prioritas utama.
Menurutnya, fokus Gerindra saat ini adalah memastikan program-program prioritas pemerintah berjalan dengan baik, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
“Memang Pak Prabowo di rapat-rapat internal kami selalu mengatakan bahwa pilpres masih jauh, pemilihan masih jauh. Kita masih fokus untuk menyukseskan program-program prioritas Pak Prabowo,” katanya.
Ia menilai pemerintahan Prabowo baru berjalan sekitar dua tahun sehingga masih membutuhkan perhatian dan dukungan agar berbagai program yang telah direncanakan dapat terlaksana.
“Karena ini terkait dengan bagaimana hajat hidup rakyat, kesejahteraan rakyat, dan lain sebagainya,” ucapnya.
**Dinilai Perubahan Strategi Politik**
Sementara itu, Peneliti Senior Populi Center, Usep Saepul Ahyar, menilai pernyataan Jokowi tidak serta-merta menunjukkan adanya keretakan hubungan politik antara Jokowi dan Prabowo.
Menurut Usep, sikap Jokowi lebih tepat dipahami sebagai perubahan strategi politik dibandingkan perubahan dukungan.
“Saya membaca ini bukan sebagai perubahan sikap, melainkan perubahan strategi,” kata Usep kepada wartawan.
Ia berpandangan, dukungan Jokowi terhadap Prabowo-Gibran untuk dua periode sebelumnya merupakan proposal politik yang disampaikan lebih awal. Langkah tersebut, menurutnya, bertujuan mempertahankan peluang Gibran untuk kembali menjadi calon wakil presiden sebelum partai-partai koalisi mengajukan kandidat masing-masing.
“Tujuannya mengunci posisi Gibran sebelum partai-partai koalisi menyodorkan jagoannya sendiri untuk kursi cawapres,” ujarnya.
Namun, Usep menilai usulan tersebut belum mendapatkan dukungan terbuka dari sejumlah partai koalisi. Ia mencontohkan Golkar, PKB, dan PAN yang menyatakan mendukung Prabowo pada Pilpres 2029, tetapi tidak secara spesifik menyebut Gibran sebagai calon wakil presiden.
Di sisi lain, Gerindra juga menyatakan pembahasan mengenai calon wakil presiden belum dilakukan.
Usep menilai jika Jokowi terus mengulang dukungan terhadap pasangan Prabowo-Gibran untuk dua periode, hal tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa dirinya sedang memberikan tekanan politik kepada Prabowo.
Selain itu, menurutnya, dukungan yang terus disuarakan Jokowi dapat memperkuat anggapan bahwa posisi politik Gibran masih bergantung pada ayahnya.
“Ia (Jokowi) bisa juga dibaca sebagai upaya menekan Presiden Prabowo, dan menegaskan kesan bahwa posisi politik Gibran masih bergantung pada ayahnya,” kata Usep.
Baca juga: Prabowo Beri Taklimat kepada 800 Perwira Tinggi TNI-Polri di Istana
Ia juga menyoroti pernyataan Jokowi bahwa Pemilu 2029 masih jauh. Menurutnya, ungkapan tersebut sejalan dengan pesan yang kerap disampaikan Prabowo dalam rapat internal agar pemerintah dan partai pendukung lebih dahulu berfokus pada pelaksanaan program kerja.
Editor: Linna Susanti

