BOGOR, Denting.id – Kawasan Kawah Purba Pangrango di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) masih menyimpan banyak potensi yang belum terungkap. Minimnya data ilmiah mengenai keanekaragaman hayati hingga kondisi geologi kawasan tersebut mendorong digelarnya Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026 pada 10–17 Oktober 2026.
Ekspedisi ini melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas peneliti, tenaga ahli, serta pegiat konservasi dari berbagai lembaga. Kegiatan tersebut bertujuan mengumpulkan data mengenai kekayaan hayati, kondisi geologi, serta karakteristik lingkungan kawasan yang selama ini relatif minim diteliti.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) dengan melibatkan sejumlah mitra, di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cikananga Wildlife Center, FOKSI, Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Baraka Bumi, Nusantara Climate Initiative, dan WWF.
Kepala BBTNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, menyebut ekspedisi tersebut sebagai upaya memperkuat dasar ilmiah dalam pengelolaan kawasan konservasi. Data yang dihimpun diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai kondisi ekologis dan sejarah geologi Kawah Purba Pangrango.
“Harapannya, ekspedisi ini dapat menghasilkan temuan baru, catatan baru bagi ilmu pengetahuan, atau bahkan menemukan kembali spesies yang selama ini belum terdokumentasi di kawasan tersebut,” demikian tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan ekspedisi.
Menelusuri Kekayaan Hayati dan Jejak Geologi
Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026 melibatkan sekitar 40 personel dengan bidang keahlian beragam, mulai dari botani, burung, herpetofauna, serangga, mamalia, dan fungi hingga geologi serta vulkanologi.
Pengamatan dilakukan untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai keanekaragaman hayati dan kondisi fisik kawasan. Tim juga menggunakan sejumlah peralatan penelitian, seperti kamera jebak, perekam suara satwa, GPS, kompas, perangkap serangga, perangkap jatuh (pitfall trap), serta jaring kabut (mist net).
Peralatan tersebut digunakan sesuai kebutuhan dan metode penelitian masing-masing bidang. Selain pengamatan langsung, tim melakukan perekaman suara satwa serta dokumentasi untuk membantu mengidentifikasi dan mendata keberadaan berbagai jenis organisme.
Meidi Yanto dari Cikananga Wildlife Center, yang bergerak dalam konservasi satwa secara langsung di habitatnya, merencanakan survei burung sebagai salah satu bagian dari kegiatan tersebut. Perekaman suara menjadi metode penting untuk membantu mendeteksi keberadaan burung, termasuk jenis yang tidak mudah diamati secara langsung.
Hasil pengamatan diharapkan dapat memperkaya informasi mengenai persebaran satwa dan kondisi habitat di kawasan Kawah Purba Pangrango.
Kawasan Sulit Dijangkau dan Minim Penelitian
Kawah Purba Pangrango berada di kawasan TNGGP, taman nasional yang memiliki luas sekitar 24.270,80 hektare. Kawasan yang menjadi sasaran ekspedisi ini diperkirakan mencakup area sekitar 8 kilometer persegi, atau kurang lebih 3,3 persen dari luas taman nasional.
Wilayah tersebut berada di sisi barat daya puncak Gunung Pangrango, pada ketinggian sekitar 1.800–2.200 meter di atas permukaan laut. Akses menuju lokasi antara lain melalui wilayah Sukabumi, melalui Resor PTN Cimungkad.
Medan yang terjal dan akses yang sulit menjadi tantangan bagi tim untuk melakukan pengamatan secara menyeluruh. Di sisi lain, relatif terbatasnya aktivitas manusia di sejumlah bagian kawasan menjadikannya lokasi penting untuk mempelajari kondisi ekosistem yang belum banyak terdokumentasi.
Minimnya data yang tersedia membuat penelitian lapangan menjadi langkah penting untuk mengetahui jenis organisme yang hidup di kawasan tersebut, kondisi habitatnya, serta karakteristik lingkungan yang memengaruhi keberlangsungan ekosistem.
Menyingkap Sejarah Geologi Kawasan
Selain kekayaan hayati, ekspedisi ini juga menyoroti sejarah geologi kawasan Kawah Purba Pangrango. Bentang alam tersebut berkaitan dengan proses vulkanisme purba yang membentuk lanskap di sekitar Gunung Pangrango.
Kajian geomorfologi yang pernah dimuat dalam Geomagz pada Juni 2014 mengulas Gunung Mandalawangi sebagai gunung api tua yang mengalami perubahan bentuk akibat aktivitas vulkanik. Proses tersebut meninggalkan bentang alam yang menjadi bagian dari sejarah pembentukan kawasan Pangrango.
Penelitian geologi dan vulkanologi dalam ekspedisi ini diharapkan dapat menambah pemahaman mengenai karakteristik batuan, bentuk lahan, serta proses geologi yang membentuk kawasan tersebut.
Pemahaman terhadap sejarah geologi diperlukan untuk melengkapi kajian ekologis. Kondisi fisik suatu kawasan, termasuk ketinggian, kemiringan lahan, dan karakteristik tanah, turut memengaruhi persebaran tumbuhan maupun satwa yang hidup di dalamnya.
Menjadi Dasar Penguatan Konservasi
Data yang dikumpulkan selama ekspedisi diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pengelolaan TNGGP. Informasi tersebut juga berpotensi menjadi dasar bagi penelitian lanjutan, khususnya pada kawasan yang belum banyak mendapatkan perhatian ilmiah.
Target ekspedisi tidak terbatas pada kemungkinan menemukan spesies baru. Pencatatan ulang keberadaan spesies yang sudah dikenal, penambahan informasi persebaran, serta pendokumentasian kondisi habitat juga menjadi hasil penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan konservasi.
Melalui Ekspedisi Kawah Purba Pangrango 2026, tim peneliti berupaya menyusun gambaran yang lebih utuh mengenai kawasan tersebut, mulai dari kekayaan hayati hingga jejak geologi yang membentuk bentang alamnya.
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkuat dasar ilmiah bagi upaya perlindungan kawasan, sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut terhadap potensi alam Kawah Purba Pangrango yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.
Editor : Linna Susanti

