Gempa Bogor Rusak 349 Rumah dan Fasilitas Ibadah, BMKG Turun ke Lapangan

 

BOGOR, Denting.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan survei lapangan untuk memverifikasi dampak dua gempa bumi yang mengguncang wilayah Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (15/10/2026). Rentetan gempa tersebut menyebabkan ratusan rumah dan sejumlah fasilitas ibadah di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi mengalami kerusakan.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebanyak 253 rumah dan lima fasilitas ibadah terdampak di Kabupaten Bogor. Sementara itu, di Kabupaten Sukabumi, 96 rumah dilaporkan mengalami kerusakan.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan gempa pertama terjadi pada pukul 17.49 WIB dengan magnitudo 3,5. Gempa kedua menyusul pada pukul 17.58 WIB dengan magnitudo 4,1.

Kedua gempa tersebut tergolong gempa dangkal, masing-masing pada kedalaman 9 kilometer dan 5 kilometer.

“Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kedua gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang diduga dipicu oleh aktivitas sesar aktif,” kata Teguh, Sabtu (17/10/2026).

BMKG juga mencatat 11 gempa susulan dengan magnitudo 1,6 hingga 2,6. Dua di antaranya dilaporkan turut dirasakan masyarakat.

Guncangan gempa dirasakan dengan intensitas berbeda di sejumlah wilayah. Intensitas IV MMI dilaporkan di Pamijahan dan Kabandungan, sedangkan intensitas III MMI dirasakan di Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak.

Adapun intensitas II MMI dilaporkan di Palabuhanratu, Pabuaran, dan Cicantayan.

253 Rumah Rusak di Kabupaten Bogor

Data BPBD Kabupaten Bogor mencatat kerusakan di tiga desa, yakni Purasari di Kecamatan Leuwiliang serta Cibunian dan Purwabakti di Kecamatan Pamijahan.

Dari total 253 rumah yang terdampak, sebanyak 222 rumah mengalami rusak ringan, 25 rumah rusak sedang, dan enam rumah rusak berat. Lima fasilitas ibadah juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Di Desa Purasari, tercatat 55 rumah rusak ringan, 13 rumah rusak sedang, dan tiga rumah rusak berat.

Sementara itu, Desa Cibunian melaporkan 70 rumah rusak ringan dan enam rumah rusak sedang. Dua fasilitas ibadah di desa tersebut juga mengalami kerusakan ringan.

Di Desa Purwabakti, sebanyak 97 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan tiga rumah rusak berat. Tiga fasilitas ibadah di wilayah tersebut turut mengalami kerusakan ringan.

Selain kerusakan bangunan, gempa menyebabkan satu orang mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan di klinik.

381 Warga Sukabumi Terdampak

Dampak gempa juga dirasakan masyarakat Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sukabumi, sebanyak 96 rumah mengalami rusak ringan, dengan total 106 kepala keluarga atau 381 jiwa terdampak.

Kerusakan tersebar di empat desa. Desa Kabandungan mencatat 84 rumah rusak ringan yang berdampak pada 94 kepala keluarga atau 333 jiwa.

Di Desa Tugubandung, sembilan rumah rusak ringan dengan sembilan kepala keluarga atau 33 jiwa terdampak.

Selanjutnya, dua rumah di Desa Cihamerang mengalami rusak ringan, berdampak pada dua kepala keluarga atau 10 jiwa. Adapun di Desa Mekarjaya, satu rumah rusak ringan dengan satu kepala keluarga atau lima jiwa terdampak.

Kepala Stasiun Geofisika Sukabumi, Agung Sabtaji, mengatakan laporan yang dihimpun dari kecamatan menunjukkan seluruh kerusakan rumah di wilayah Kabupaten Sukabumi masuk kategori rusak ringan.

“Laporan tersebut juga tidak mencatat adanya korban meninggal dunia maupun korban luka-luka,” ujarnya.

BMKG Periksa Kondisi Bangunan

BMKG mulai melakukan survei lapangan pada 16 Oktober 2026 untuk memverifikasi laporan kerusakan sekaligus memeriksa kondisi bangunan di wilayah terdampak.

Survei tersebut dilakukan guna memperoleh gambaran aktual mengenai dampak guncangan gempa terhadap bangunan dan masyarakat. Hasil pemeriksaan juga digunakan untuk mencocokkan laporan kerusakan dengan kondisi di lapangan.

Selain melakukan verifikasi, BMKG terus memantau aktivitas kegempaan di Bogor dan sekitarnya. Koordinasi juga dilakukan bersama BPBD, Basarnas, dan pemangku kepentingan terkait untuk mendukung penanganan dampak gempa.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Warga juga diminta memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas di dalamnya, terutama jika ditemukan retakan atau kerusakan yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Masyarakat yang mendapati kerusakan bangunan serius disarankan menjauhi area tersebut dan meminta pemeriksaan petugas berwenang. Warga juga diminta mengikuti arahan pemerintah daerah serta memantau informasi melalui kanal resmi BMKG.

Editor : Linna Susanti

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai