Modal Terbatas Tak Halangi Urip Bangun Bellissimo Gallery hingga Berkembang

 

BOGOR, Denting.id – Keterbatasan modal tak menghalangi Urip mengembangkan Bellissimo Gallery, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sandal wanita yang dirintisnya di Ciomas, Kabupaten Bogor. Berawal dari modal Rp4 juta, usahanya kini mampu mencatat omzet puluhan juta rupiah dengan kapasitas produksi mencapai 600 hingga 800 pasang sandal per bulan.

Perjalanan Urip membangun Bellissimo Gallery bermula saat pandemi Covid-19. Kala itu, ia membantu saudaranya menjual stok sandal yang menumpuk akibat pembatalan pesanan pre-order (PO) dalam jumlah besar.

Dari pengalaman tersebut, Urip melihat peluang bisnis alas kaki yang menjanjikan. Ia kemudian memutuskan menekuni usaha tersebut dan membangun merek sendiri, bukan sekadar menjual produk milik orang lain.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Urip memanfaatkan platform perdagangan elektronik Shopee untuk memperluas jangkauan pemasaran. Ia bergabung dengan platform tersebut sejak 2019 dan semakin serius mengoptimalkan berbagai program serta fitur penjualan dalam setahun terakhir.

Menurut Urip, kepercayaan konsumen menjadi salah satu faktor penting dalam mengembangkan bisnis daring. Konsumen kini semakin cermat memilih penjual dan mempertimbangkan keamanan transaksi, layanan pembayaran di tempat atau cash on delivery (COD), hingga mekanisme pengembalian barang.

Kehadiran platform perdagangan elektronik dinilai membantu pelaku UMKM daerah menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus memiliki jaringan toko fisik di berbagai wilayah.

“Jadi kebantu banget karena target market-nya luas. Saya jualan di Bogor bisa ada yang beli orang Papua, Kalimantan. Kalau enggak ada pihak ketiga atau e-commerce atau Shopee ini, mana mungkin orang percaya dan bisa ngorder langsung ke Ciomas ke sini,” ujar Urip kepada awak media, Rabu (21/10/2026).

Fokus pada Pasar Sandal Wanita

Dalam menjalankan usahanya, Urip memilih fokus pada segmen sandal wanita. Keputusan itu didasarkan pada pertimbangan pemasaran dan potensi daya beli perempuan dalam rumah tangga.

“Kita di target market-nya khusus sandal wanita. Karena saya basic-nya marketing, saya berpikir kalau wanita itu pemegang saham terkuat di rumah tangga, jadi target market tuh harus ibu-ibu yang memang leluasa ketika mau belanja,” ungkapnya.

Nama Bellissimo sendiri diambil dari bahasa Italia yang berarti cantik. Produk yang ditawarkan dibanderol mulai Rp100 ribuan, dengan harga yang disesuaikan berdasarkan tingkat kesulitan produksi dan penggunaan aksesori tambahan.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Urip membangun identitas merek sekaligus menjaga fokus bisnisnya di tengah persaingan pasar.

Kini, Bellissimo Gallery mencatat penjualan rata-rata ratusan pasang sandal setiap bulan. Kapasitas produksinya mencapai 600 hingga 800 pasang per bulan, dengan omzet yang telah menyentuh puluhan juta rupiah.

Usaha yang berawal dari modal terbatas itu juga telah mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sebagai salah satu langkah untuk memperkuat identitas merek yang dibangunnya.

Membangun Kepercayaan untuk Memperluas Pasar

Bagi Urip, platform perdagangan elektronik bukan sekadar tempat berjualan, melainkan sarana untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun kepercayaan konsumen terhadap merek lokal.

Ia menilai sistem penilaian toko, ulasan pembeli, serta mekanisme pengembalian barang menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa aman bagi penjual maupun konsumen.

“Bagi kami, Shopee adalah platform yang paling adil dan memberikan rasa aman bagi seller. Kebijakan pengembalian barang di Shopee sangat transparan dan menjadi win-win solution melalui mekanisme verifikasi serta sistem banding yang jelas,” tuturnya.

Perjalanan Bellissimo Gallery memperlihatkan bagaimana ketekunan, keberanian melihat peluang, dan pemanfaatan pemasaran digital dapat membantu UMKM mengembangkan usaha secara bertahap.

Dari membantu menjual stok sandal saat pandemi, Urip kini mampu membangun merek sendiri dengan kapasitas produksi ratusan pasang setiap bulan. Produk yang dipasarkan dari Ciomas pun telah menjangkau pembeli hingga Papua dan Kalimantan.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa keterbatasan modal bukan satu-satunya penentu keberhasilan usaha. Kemampuan membaca peluang pasar, menentukan target konsumen, dan menjaga kepercayaan pembeli turut menjadi bagian penting dalam perjalanan mengembangkan bisnis.

Editor : Linna Susanti

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai