Darurat Sampah! Mendagri Ingatkan Tak Bisa Lagi Setengah-Setengah

Jakarta, dentinbg.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan persoalan sampah di Indonesia tak bisa lagi ditangani secara parsial. Ia menyebut pengelolaan sampah harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir agar krisis sampah nasional bisa diatasi secara sistematis dan berkelanjutan.

“Saya hanya mau nambahkan sedikit beberapa data saja untuk betul-betul acara ini tidak seremonial tapi menjadi wake up call yang kesekian kali,” kata Mendagri Muhammad Tito Karnavian, Kamis (26/02/2026).

Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah Tahun 2026 bertema Kolaborasi untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), Tito memaparkan bahwa Indonesia masuk lima besar negara penghasil sampah terbesar di dunia dan berada di posisi ketiga penyumbang sampah plastik ke laut. Kondisi ini, menurutnya, menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak serius menangani sampah.

Ia menekankan, sampah bukan sekadar isu kebersihan, melainkan berdampak pada kesehatan masyarakat hingga potensi ekonomi. Pengelolaan sampah yang tepat bahkan bisa menjadi sumber nilai tambah jika dilakukan dengan sistem yang benar.

Tito membagi strategi pengelolaan sampah ke dalam tiga pendekatan, yakni berbasis hulu, berbasis hilir, dan integratif. Pada pendekatan hulu, pengurangan sampah dilakukan sejak dari rumah tangga, lingkungan RT/RW, hingga desa.

“Nah yang berbasis hulu ini adalah berbasis lingkungan, rumah tangga. Jadi setiap rumah tangga bergerak, setiap lingkungan bergerak, RT, RW, desa misalnya, untuk mereka udah dari awal melakukan reduce, mengurangi, mengurangi sampah dan kemudian mengolah sampah di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Klungkung, dan Subang disebut berhasil menekan volume sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui pemilahan sejak sumbernya. Model ini dinilai efektif karena melibatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah.

Selain itu, Tito juga menyoroti pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Inovasi ini dinilai mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan pakan ternak dan pupuk, sejalan dengan konsep ekonomi sirkular.

Di sisi hilir, penguatan sistem pengangkutan dan pengolahan sampah di perkotaan menjadi perhatian utama. Pemanfaatan teknologi disebut penting, namun tetap harus dibarengi tata kelola dan pengawasan yang konsisten agar pengelolaan sampah berjalan optimal.

Melalui Rakornas tersebut, Tito berharap gerakan pengelolaan sampah menjadi lebih terstruktur dan kolaboratif, bukan lagi reaktif ketika terjadi penumpukan.

“Kotanya bersih, karena pasukan sampahnya yang bergerak cepat. Sehingga pada waktu pagi hari enggak ada sampah,” tuturnya menegaskan pentingnya sistem kerja cepat dan terintegrasi dalam menangani sampah.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai