Denting.id – Sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar ia telah bertransformasi menjadi panggung sosial yang kompleks. Di era media sosial dan digitalisasi, budaya sekolah mengalami pergeseran yang cukup signifikan, dan tidak semuanya mengarah ke hal positif. Fenomena ini layak untuk kita cermati bersama, karena di sinilah generasi penerus bangsa dibentuk.
1. Eksistensi Digital Menggeser Prestasi
Fenomena yang paling mencolok adalah orientasi pada penampilan dan eksistensi digital. Banyak siswa kini lebih sibuk membangun citra di media sosial daripada membangun karakter. “Viral di TikTok” terasa lebih membanggakan daripada menang olimpiade sains. Ini bukan salah generasinya ini adalah cerminan nilai yang sedang dikonstruksi oleh lingkungan sekitar mereka.
Ketika konten lebih dianggap penting daripada pemahaman, dan guru pun mengajar dengan was-was diunggah ke media sosial, maka sekolah kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang pembentukan nilai dan pengetahuan.
2. Budaya “Rebahan” yang Salah Kaprah
Tren lain yang marak adalah budaya “healing” dan “rebahan” yang dikemas sebagai identitas. Kata-kata seperti malas produktif, me time, dan self-care sering disalahartikan sebagai pembenaran untuk tidak berjuang keras. Padahal nilai-nilai itu sejatinya sehat masalahnya ketika ia menjadi pelarian, bukan penyeimbang.
Keseimbangan antara istirahat dan kerja keras adalah hal yang perlu diajarkan, bukan dipilihkan. Generasi yang hanya bisa beristirahat tanpa tahu cara berjuang akan kesulitan menghadapi tantangan nyata di masa depan.
3. Hal Positif yang Patut Diapresiasi
Di sisi lain, ada hal yang patut diapresiasi dari generasi pelajar masa kini lebih berani bersuara generasi sekarang lebih kritis dan vokal terhadap isu bullying, kesehatan mental, dan kesetaraan, kepedulian terhadap lingkungan dan isu global meningkat secara signifikan di kalangan pelajar, akses digital membuka ruang ekspresi dan belajar mandiri yang lebih luas dari generasi sebelumnya.
Ini adalah modal sosial yang luar biasa jika diarahkan dengan tepat. Potensi generasi muda tidak perlu diragukan yang perlu dipertanyakan adalah arah dan wadah yang disediakan untuk mereka.
4. Ke Mana Pendidikan Ini Mengarah?
Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan nilai. Ketika guru hanya mengajar agar tidak diunggah ke media sosial, ketika siswa belajar hanya untuk konten, dan ketika prestasi diukur dari jumlah pengikut bukan dari pemahaman di situlah kita perlu berhenti dan bertanya: pendidikan ini untuk apa?
Budaya sekolah yang sehat bukan yang anti-tren, melainkan yang mampu menyaring tren dengan kritis mengambil yang baik, meninggalkan yang merusak, dan tetap menjaga substansi: belajar untuk tumbuh, bukan untuk tampil.
Penulis
Elfira, M.Pd (Dosen Universitas Negeri Makassar)

