OPINI: Gadget di Tangan Pelajar, Alat Belajar atau Jebakan Distraksi?

Denting.id – Di era di mana seorang anak SD sudah lebih mahir memegang smartphone daripada pensil, pertanyaan besarnya bukan lagi “apakah gadget boleh dibawa ke sekolah?” melainkan “sejauh mana kita mampu mengelola dampaknya?”

Dua Sisi yang Tidak Bisa Diabaikan

Tidak adil jika kita langsung menyalahkan gadget. Faktanya, teknologi telah membuka akses belajar yang luar biasa luas. Siswa di daerah terpencil kini bisa menonton video pembelajaran berkualitas tinggi, mengakses ribuan buku digital, dan berdiskusi dengan teman dari seluruh dunia. Ini adalah revolusi pendidikan yang nyata.

Namun di sisi lain, realita di kelas berbicara lain. Banyak guru mengeluhkan siswa yang matanya lebih sering menatap layar daripada papan tulis. Notifikasi media sosial, game online, dan konten hiburan bersaing keras dan seringkali menang melawan materi pelajaran. Riset pun menunjukkan bahwa multitasking antara belajar dan bermain gadget justru menurunkan kualitas pemahaman secara signifikan.

Masalahnya Bukan Gadget-nya

Yang perlu dipahami adalah gadget hanyalah alat. Pisau dapur bisa memasak, bisa juga melukai tergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa. Masalah sesungguhnya terletak pada tiga hal, literasi digital yang rendah di kalangan pelajar maupun orang tua, lemahnya kontrol diri terhadap konten yang menstimulasi dopamine dan tidak adanya panduan yang jelas dari orang tua maupun sekolah.

Anak-anak tidak lahir dengan kemampuan membatasi diri dari konten yang menarik. Mereka butuh diajarkan bukan hanya dilarang.

Yang Seharusnya Dilakukan

Melarang gadget sepenuhnya bukan solusi, karena dunia kerja yang akan mereka masuki justru penuh teknologi. Yang dibutuhkan adalah literasi digital yang diajarkan sejak dini: bagaimana memilah informasi, kapan harus menaruh ponsel, dan bagaimana menggunakan teknologi secara produktif.

Sekolah perlu merancang kebijakan gadget yang cerdas bukan sekadar larangan kaku, tapi panduan penggunaan yang kontekstual. Orang tua pun tidak bisa cuci tangan, karena kebiasaan digital anak dimulai dari rumah, jauh sebelum ia duduk di bangku kelas.

Generasi ini adalah generasi pertama yang tumbuh bersama internet sejak lahir. Mereka tidak bisa dan tidak perlu dijauhkan dari teknologi. Tapi mereka sangat membutuhkan orang dewasa di sekitarnya yang cukup bijak untuk mengajarkan satu hal penting:

“Gadget adalah pelayan yang baik, tapi tuan yang buruk.”

Penulis 

Elfira, M.Pd. (Dosen Universitas Negeri Makassar) 

 

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai