Kasus ISPA di Tangerang Tembus 43.000 dalam Dua Bulan, Dinkes Ungkap Penyebabnya

 

TANGERANG, Denting.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat 43.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama Juli hingga Agustus 2026.

Lonjakan kasus tersebut terjadi di tengah kondisi kemarau panjang yang menyebabkan cuaca panas dan lingkungan lebih banyak terpapar debu.

Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakan, sebanyak 18.000 kasus ISPA tercatat pada Juli 2026. Jumlah tersebut kemudian bertambah 25.000 kasus pada Agustus 2026.

“Dalam dua bulan terakhir, kasus ISPA melonjak tajam, dan ini dipicu oleh cuaca panas ekstrem,” ujar Hendra di Kabupaten Tangerang, Jumat (25/9/2026).

Menurut Hendra, kondisi kemarau menyebabkan suhu meningkat dan intensitas hujan berkurang. Kondisi lingkungan yang lebih berdebu kemudian disebut turut meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.

Kelompok yang dinilai lebih rentan antara lain anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Hendra mengimbau masyarakat mengenali sejumlah gejala ISPA, seperti demam, batuk, pilek, pegal linu, hingga sakit kepala. Penanganan dilakukan untuk mencegah kondisi berkembang menjadi gangguan pernapasan yang lebih berat, termasuk bronkopneumonia.

“Pihak kesehatan telah melakukan pengobatan intensif. Tujuannya untuk mencegah perburukan menjadi bronkopneumonia,” ucapnya.

Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengonsumsi sayur dan buah.

Warga yang melakukan aktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker, terutama ketika kondisi udara berdebu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan tren penyakit mengalami perubahan selama periode kekeringan.

Menurut Ati, kasus ISPA di Banten sempat mencapai 7.015 penderita sebelum turun menjadi 2.756 kasus per 16 September 2026.

“Kalau ISPA progresnya seminggu kemarin sempat mengalami peningkatan, tapi mulai hari Rabu sudah terjadi penurunan,” kata Ati.

Namun, Ati menyebut penyakit kulit justru mengalami peningkatan selama periode kekeringan. Kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan akses air bersih yang dibutuhkan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari.

Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan dan kesehatan selama musim kemarau, termasuk mengurangi paparan debu serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai