Jakarta, Denting.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan pada Oktober 2026. Kondisi cuaca yang relatif kering dan kemunculan titik panas meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 13–19 Oktober 2026, kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia.
Sementara itu, pemantauan pada 11 Oktober 2026 mendeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas terbanyak, yakni 213 titik. Berikutnya, Kalimantan Barat sebanyak 71 titik, Kalimantan Timur 30 titik, dan Kalimantan Selatan 15 titik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan penanganan khusus.
Lantas, apa saja faktor yang membuat karhutla di kawasan gambut sulit dipadamkan?
1. Api Dapat Merambat di Bawah Permukaan Tanah
Salah satu penyebab utama sulitnya pemadaman karhutla adalah karakteristik lahan gambut yang kaya akan bahan organik.
Ketika kondisi gambut mengering, lapisan organik di bawah permukaan tanah dapat terbakar dan membuat api merambat tanpa terlihat secara langsung.
Akibatnya, api yang tampak sudah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati. Bara di dalam tanah masih dapat bertahan dan memicu kebakaran kembali di lokasi yang sama maupun area sekitarnya.
Kondisi ini membuat petugas perlu memastikan bahwa titik-titik bara di dalam lapisan gambut telah ditangani secara menyeluruh.
2. Cuaca Kering Meningkatkan Risiko Kebakaran
Cuaca menjadi faktor penting yang memengaruhi kemunculan dan penyebaran karhutla.
Suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, serta minimnya hujan dapat membuat vegetasi dan lapisan gambut semakin kering. Kondisi tersebut menyebabkan bahan organik lebih mudah terbakar.
Ketika kebakaran terjadi, kondisi lahan yang kering juga dapat mempercepat perambatan api dan menyulitkan proses pemadaman.
Prakiraan BMKG untuk periode 13–19 Oktober 2026 menunjukkan kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, meskipun hujan dengan intensitas signifikan tetap berpotensi terjadi di beberapa daerah.
3. Angin Mempercepat Penyebaran Api
Angin juga menjadi salah satu faktor yang menyulitkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Tiupan angin dapat mempercepat perambatan api ke vegetasi di sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, bara yang terbawa angin juga berpotensi memicu kebakaran baru di area lain yang kering.
Selain memperluas wilayah kebakaran, angin dapat membawa asap menuju kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Karena itu, arah dan kecepatan angin menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi pemadaman.
4. Lokasi Kebakaran Sulit Dijangkau
Luasnya kawasan hutan dan lahan serta kondisi medan yang sulit dilalui turut menjadi tantangan bagi petugas di lapangan.
Pada sejumlah lokasi, akses yang terbatas dapat menghambat mobilisasi personel, pasokan air, dan peralatan pemadam menuju titik kebakaran.
Tantangan semakin besar ketika api telah menyebar ke area yang luas atau merambat ke lapisan gambut di bawah permukaan tanah.
Petugas tidak hanya perlu mengendalikan api yang terlihat, tetapi juga memeriksa area terdampak untuk memastikan tidak ada bara tersisa yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
5. Pemadaman Harus Memastikan Bara Benar-Benar Padam
Penanganan kebakaran di lahan gambut tidak cukup hanya dengan memadamkan api di permukaan.
Bara yang tersimpan di dalam tanah harus turut ditangani agar kebakaran tidak kembali muncul setelah proses pemadaman selesai.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pembasahan lahan gambut untuk meningkatkan kadar air dan mengurangi kondisi kering yang membuat bahan organik mudah terbakar.
Selain pemadaman, pemantauan berkelanjutan juga diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya kembali titik api.
Upaya penanganan harus disesuaikan dengan kondisi lahan, luas kebakaran, akses menuju lokasi, serta kebutuhan personel dan peralatan di lapangan.
Baca juga: Menteri Kehutanan Tinggalkan Sampit, Peninjauan Karhutla Kotim Belum Terlaksana
Dengan karakteristik tersebut, pencegahan menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Menjaga kelembapan lahan gambut, menghindari pembakaran terbuka, serta melakukan pemantauan titik panas dapat membantu mengurangi risiko kebakaran meluas.
Editor: Linna Susanti

